Lubang hitam

benda langit dengan gravitasi sangat kuat sampai-sampai cahaya tidak dapat kabur darinya

Lubang hitam adalah benda astronomi yang sedemikian kompak sehingga gravitasinya mencegah apa pun, termasuk cahaya, untuk lepas. Teori relativitas umum Albert Einstein, yang menggambarkan gravitasi sebagai kelengkungan ruang waktu, memprediksi bahwa setiap massa yang cukup kompak akan membentuk lubang hitam.[4] Batas yang tidak dapat diloloskan itu disebut cakrawala peristiwa. Dalam relativitas umum, melintasi cakrawala peristiwa lubang hitam akan menjebak sebuah objek di dalamnya, tetapi tidak menimbulkan perubahan yang dapat dideteksi secara lokal. Relativitas umum juga memprediksi bahwa setiap lubang hitam seharusnya memiliki singularitas pusat, tempat kelengkungan ruang waktu menjadi tak berhingga.

Bercak hitam di tengah, dikelilingi cincin jingga-kuning berbentuk donat dengan kegelapan ruang hampa sebagai latar belakang
Citra kawasan inti Messier 87, sebuah lubang hitam supermasif, yang diproses dari jajaran renggang teleskop radio yang dikenal sebagai EHT, dengan warna yang menunjukkan suhu kecerahan[1][2]
Lingkaran hitam di tengah, dikelilingi tiga gumpalan cahaya putih terang dan Bima Sakti berwarna jingga yang terdistorsi menjadi lengkung di sekelilingnya. Latar belakangnya berupa langit berbintang dengan citra kedua Bima Sakti, yang tidak terdistorsi, terlihat di sudut kiri atas.
Tampilan simulasi sebuah lubang hitam tak berotasi dan tak bermuatan di depan Awan Magellan Besar. Efek pelensaan gravitasi menghasilkan dua tampilan Awan yang diperbesar tetapi terdistorsi. Di bagian atas, piringan Bima Sakti tampak terdistorsi menjadi sebuah busur. Berdasarkan penelusuran sinar.[3]

Objek-objek yang medan gravitasinya terlalu kuat untuk memungkinkan cahaya lepas pertama kali dipertimbangkan pada abad ke-18. Pada 1916, ditemukan solusi pertama relativitas umum yang kelak mencirikan lubang hitam. Menjelang akhir 1950-an, solusi ini mulai ditafsirkan secara fisik sebagai suatu kawasan ruang yang darinya tidak ada apa pun yang dapat lolos. Lubang hitam lama dianggap sebagai keingintahuan matematis; baru pada 1960-an karya teoretis menunjukkan bahwa lubang hitam merupakan prediksi umum relativitas umum. Lubang hitam pertama yang diterima secara luas adalah Cygnus X-1, yang diidentifikasi secara independen oleh beberapa peneliti pada 1971.

Lubang hitam biasanya terbentuk ketika bintang yang sangat masif runtuh pada akhir siklus hidupnya. Setelah sebuah lubang hitam terbentuk, ia dapat tumbuh dengan menyerap massa dari lingkungannya. Lubang hitam supermasif bermassa jutaan massa Matahari dapat terbentuk dengan menyerap bintang dan bergabung dengan lubang hitam lain, atau melalui keruntuhan langsung awan gas. Terdapat konsensus bahwa lubang hitam supermasif berada di pusat sebagian besar galaksi.

Teori medan kuantum dalam ruang waktu melengkung memprediksi bahwa cakrawala peristiwa memancarkan radiasi Hawking, dengan laju emisinya berbanding terbalik dengan massanya. Hal ini menyebabkan lubang hitam kehilangan massa dengan sangat perlahan, asalkan ia tidak sedang mengakresi materi. Namun, bahkan kelas lubang hitam terkecil yang teramati, yaitu lubang hitam bintang, memperoleh massa dari latar belakang gelombang mikro kosmik lebih cepat daripada kehilangan massa melalui radiasi Hawking.

Keberadaan lubang hitam dapat disimpulkan melalui interaksinya dengan materi dan radiasi elektromagnetik seperti cahaya tampak. Materi yang jatuh menuju lubang hitam dapat membentuk piringan akresi dari plasma yang jatuh ke dalam, dipanaskan oleh gesekan dan memancarkan cahaya. Dalam kasus ekstrem, proses ini menciptakan kuasar, beberapa di antara objek paling terang di alam semesta. Lubang hitam yang bergabung dapat dideteksi melalui gelombang gravitasi yang dipancarkannya. Jika bintang-bintang mengorbit sebuah lubang hitam, gerakannya dapat digunakan untuk menentukan massa dan lokasi lubang hitam tersebut. Dengan cara ini, para astronom telah mengidentifikasi banyak kandidat lubang hitam bintang dalam sistem biner dan menetapkan bahwa sumber radio yang dikenal sebagai Sagittarius A*, di inti galaksi Bima Sakti, mengandung sebuah lubang hitam supermasif sekitar 4,3 juta massa Matahari.

Sejarah

sunting

Gagasan tentang sebuah benda yang begitu masif sehingga bahkan cahaya tidak dapat lepas pertama kali diajukan pada akhir abad ke-18 oleh astronom sekaligus rohaniwan Inggris John Michell dan secara independen oleh ilmuwan Prancis Pierre-Simon Laplace. Keduanya mengusulkan bintang-bintang yang sangat besar, berbeda dengan konsep modern tentang objek yang sangat rapat.[5]

Gagasan Michell, dalam bagian singkat dari sebuah surat yang diterbitkan pada 1784,[6] menghitung bahwa sebuah bintang dengan kerapatan yang sama tetapi berjari-jari 500 kali jari-jari Matahari tidak akan membiarkan cahaya yang dipancarkannya lepas; kecepatan lepas di permukaannya akan melampaui kecepatan cahaya.[7]:122 Michell dengan tepat mengajukan hipotesis bahwa benda-benda yang tidak memancarkan radiasi semacam itu mungkin dapat dideteksi melalui pengaruh gravitasinya terhadap benda-benda tampak di dekatnya. Pada 1796, ketika berspekulasi tentang asal-usul Tata Surya dalam bukunya Exposition du Système du Monde, Laplace mengajukan secara kualitatif bahwa sebuah bintang dapat menjadi tidak terlihat jika ukurannya cukup besar. Franz Xaver von Zach meminta Laplace memberikan analisis matematis, yang kemudian disediakan Laplace dan diterbitkan dalam jurnal von Zach, Allgemeine Geographische Ephemeriden [de].[5]

Relativitas umum

sunting

Pada 1905, Albert Einstein menunjukkan bahwa hukum elektromagnetisme identik bagi pengamat yang bergerak dengan kecepatan berbeda relatif satu sama lain. Hukum mekanika sebelumnya telah terbukti invarian dengan cara demikian. Namun, teori gravitasi belum tercakup di dalamnya.[8]:19

Pada 1907, Einstein menerbitkan sebuah makalah yang mengusulkan prinsip ekuivalensi miliknya, yakni hipotesis bahwa massa inersia dan massa gravitasi memiliki sebab yang sama. Dengan menggunakan prinsip tersebut, Einstein memprediksi pergeseran merah dan efek pelensaan gravitasi terhadap cahaya; prediksinya tentang pelensaan gravitasi bernilai setengah dari nilai yang kelak diprediksi oleh teori relativitas umum yang lengkap.[8]:19 Pada 1915, Einstein menyempurnakan gagasan-gagasan ini menjadi teori relativitas umum miliknya, yang menjelaskan bagaimana materi memengaruhi ruang waktu, yang pada gilirannya memengaruhi gerak materi lain.[9][10] Hal ini menjadi dasar bagi fisika lubang hitam.[11]

Solusi singular dalam relativitas umum

sunting

Hanya beberapa bulan setelah Einstein menerbitkan persamaan medan yang menggambarkan relativitas umum, astrofisikawan Karl Schwarzschild mulai menerapkan gagasan itu pada bintang. Ia mengasumsikan simetri bola tanpa rotasi dan menemukan sebuah solusi bagi persamaan Einstein.[7]:124[12] Beberapa bulan setelah Schwarzschild, Johannes Droste, seorang mahasiswa Hendrik Lorentz, secara independen memberikan solusi yang sama.[13][14] Pada radius tertentu dari pusat massa, solusi Schwarzschild menjadi singular, yang berarti bahwa beberapa suku dalam persamaan Einstein menjadi tak berhingga. Sifat radius ini, yang kelak dikenal sebagai radius Schwarzschild, belum dipahami pada masa itu.[15]

Banyak fisikawan pada awal abad ke-20 meragukan keberadaan lubang hitam. Dalam sebuah buku sains populer tahun 1926, Arthur Eddington mengkritik gagasan tentang bintang dengan massa yang termampatkan hingga mencapai radius Schwarzschild sebagai cacat dalam teori relativitas umum yang ketika itu masih kurang dipahami.[16][7]:134 Pada 1939, Einstein menggunakan teori relativitas umumnya dalam upaya membuktikan bahwa lubang hitam mustahil ada.[17][18] Karyanya bertumpu pada peningkatan tekanan atau peningkatan gaya sentrifugal yang menyeimbangkan gaya gravitasi sehingga objek tidak akan runtuh melampaui radius Schwarzschild. Ia luput mempertimbangkan kemungkinan bahwa implosi akan mendorong sistem melewati nilai kritis tersebut.[7]:135

Gravitasi vs tekanan degenerasi

sunting

Pada 1920-an, para astronom telah menggolongkan sejumlah bintang katai putih sebagai terlalu dingin dan rapat untuk dijelaskan melalui pendinginan bertahap bintang-bintang biasa. Pada 1926, Ralph Fowler menunjukkan bahwa bintang-bintang ini tidak seperti bintang deret utama, tempat tekanan termal menyeimbangkan gravitasi. Sebaliknya, sejenis tekanan mekanika kuantum menyeimbangkan gravitasi pada suhu dan kerapatan tersebut.[7]:145 Pada 1931, Subrahmanyan Chandrasekhar mempelajari keadaan materi baru yang dihasilkan oleh keseimbangan ini, yang disebut materi degenerasi elektron, dan menemukan bahwa keadaan tersebut stabil di bawah massa batas tertentu. Pada 1934, ia menunjukkan bahwa hal ini menjelaskan katalog bintang katai putih.[7]:151 Ketika Chandrasekhar mengumumkan hasilnya, Eddington menunjukkan bahwa bintang-bintang di atas batas ini akan memancarkan radiasi hingga cukup rapat untuk mencegah cahaya keluar, suatu kesimpulan yang ia anggap absurd. Eddington dan, kemudian, Lev Landau berpendapat bahwa suatu mekanisme yang belum diketahui akan menghentikan keruntuhan tersebut.[19]

Pada 1930-an, Fritz Zwicky dan Walter Baade mempelajari nova bintang, dengan berfokus pada nova yang luar biasa terang, yang mereka sebut supernova. Zwicky memopulerkan gagasan bahwa supernova menghasilkan bintang dengan kerapatan setara inti atom—bintang neutron—tetapi gagasan ini pada masa itu sebagian besar diabaikan.[7]:171 Pada 1939, berdasarkan penalaran Chandrasekhar, tetapi bekerja dalam kerangka relativitas umum alih-alih gravitasi Newton, J. Robert Oppenheimer dan George Volkoff memprediksi bahwa bintang neutron di bawah batas massa tertentu, yang kemudian disebut batas Tolman–Oppenheimer–Volkoff, akan stabil karena tekanan degenerasi neutron.[7]:193 Di atas batas itu, mereka bernalar bahwa model mereka tidak akan berlaku atau kontraksi gravitasi tidak akan berhenti.[20]:380

John Archibald Wheeler dan dua mahasiswanya menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan tentang model di balik batas Tolman–Oppenheimer–Volkoff (TOV). Pada 1965, Harrison dan Wheeler mengembangkan persamaan keadaan yang menghubungkan kerapatan dengan tekanan untuk materi dingin, mulai dari degenerasi elektron hingga degenerasi neutron. Masami Wakano dan Wheeler kemudian menggunakan persamaan-persamaan tersebut untuk menghitung kurva kesetimbangan bintang, yang menghubungkan massa dengan keliling. Mereka tidak menemukan ciri tambahan yang akan membatalkan batas TOV. Ini berarti bahwa satu-satunya hal yang dapat mencegah terbentuknya lubang hitam adalah proses dinamis yang melontarkan massa secukupnya dari sebuah bintang ketika bintang tersebut mendingin.[7]:205

Lahirnya model modern

sunting

Konsep modern lubang hitam dirumuskan oleh Robert Oppenheimer dan mahasiswanya, Hartland Snyder, pada 1939.[17][21]:80 Dalam makalah tersebut,[22] Oppenheimer dan Snyder menyelesaikan persamaan relativitas umum Einstein untuk sebuah bintang teridealisasi yang mengalami implosi, dalam suatu model yang kemudian disebut model Oppenheimer–Snyder, lalu menggambarkan hasilnya dari posisi yang sangat jauh di luar bintang. Implosi dimulai sebagaimana yang diperkirakan: materi bintang runtuh cepat ke arah dalam. Namun, seiring meningkatnya kerapatan bintang, dilatasi waktu gravitasi meningkat dan keruntuhan, jika dilihat dari jauh, tampak makin lama makin melambat hingga bintang mencapai radius Schwarzschild-nya, tempat ia tampak membeku dalam waktu.[7]:217

Pada 1958, David Finkelstein mengidentifikasi permukaan Schwarzschild sebagai cakrawala peristiwa, menyebutnya "membran searah yang sempurna: pengaruh kausal hanya dapat melintasinya dalam satu arah". Ini berarti bahwa peristiwa yang terjadi di dalam lubang hitam tidak dapat memengaruhi peristiwa yang terjadi di luar lubang hitam.[23] Finkelstein menciptakan kerangka acuan baru untuk memasukkan sudut pandang pengamat yang jatuh ke dalam.[21]:103 Kerangka acuan baru Finkelstein memungkinkan peristiwa-peristiwa di permukaan sebuah bintang yang mengalami implosi dihubungkan dengan peristiwa-peristiwa yang jauh. Pada 1962, kedua sudut pandang itu telah didamaikan, sehingga meyakinkan banyak pihak skeptis bahwa implosi menjadi lubang hitam masuk akal secara fisik.[7]:226

Zaman keemasan

sunting
Citra hitam-putih sebuah lubang hitam dengan piringan akresi pada kartu berlubang. Lubang hitam terlihat sebagai setengah lingkaran hitam di tengah dengan cincin putih yang bertumpang tindih. Di sekelilingnya, piringan akresi putih terang melingkari bagian atas dan bawah lubang hitam serta sisi-sisinya, tampak paling terang di sisi kiri lubang hitam.
Citra simulasi pertama sebuah lubang hitam, diterbitkan oleh Jean-Pierre Luminet pada 1979 dan menampilkan bayangan khas, bola foton, serta piringan akresi terlensa. Piringan tersebut lebih terang pada satu sisi akibat pancaran Doppler.[24]

Masa dari pertengahan 1960-an hingga pertengahan 1970-an merupakan "zaman keemasan penelitian lubang hitam", ketika relativitas umum dan lubang hitam menjadi pokok penelitian arus utama.[25][7]:258

Pada periode ini, solusi bagi persamaan relativitas umum di bawah beragam kendala fisik ditemukan. Pada 1963, Roy Kerr menemukan solusi eksak untuk sebuah lubang hitam berotasi.[26] Dua tahun kemudian, Ezra Newman menemukan solusi aksisimetris untuk lubang hitam yang sekaligus berotasi dan bermuatan listrik.[27]

Pada akhir 1960-an dan awal 1970-an, para ilmuwan dari kelompok-kelompok penelitian yang dibentuk oleh Yakov Zeldovich, John Archibald Wheeler, dan Dennis W. Sciama menemukan serangkaian sifat matematis penting dari model lubang hitam yang oleh Wheeler dijuluki "lubang hitam tidak memiliki rambut".[7]:272 Petunjuk pertama muncul dari karya Vitaly Ginzburg, yang mempelajari serangkaian bintang yang makin kompak dan ditembus oleh medan magnet yang kuat. Ia menemukan bahwa medan-medan tersebut terperangkap pada permukaan lubang hitam. Pada 1967, Werner Israel menunjukkan bahwa setiap bintang runtuh yang tidak berotasi dan tidak bermuatan menghasilkan lubang hitam yang simetris bola: ketaksimetrian apa pun harus lenyap dengan suatu cara. Pada 1972, Richard H. Price menemukan bahwa ketaksimetrian itu diubah menjadi gelombang gravitasi. Diperlukan 15 tahun lagi dan banyak fisikawan untuk menghasilkan himpunan karya yang kemudian dikenal sebagai teorema tanpa rambut, yang menyatakan bahwa lubang hitam stasioner sepenuhnya digambarkan oleh tiga parameter metrik Kerr–Newman: massa, momentum sudut, dan muatan listrik.[7]:285

Pada awalnya, diduga bahwa singularitas matematis aneh yang ditemukan dalam tiap-tiap solusi lubang hitam hanya muncul karena asumsi bahwa lubang hitam akan sepenuhnya simetris bola, sehingga singularitas tidak akan muncul dalam situasi umum ketika lubang hitam tidak harus simetris. Pandangan ini terutama dianut oleh Vladimir Belinski, Isaak Khalatnikov, dan Evgeny Lifshitz, yang berupaya membuktikan bahwa singularitas tidak muncul dalam solusi umum, meskipun kemudian mereka membalikkan pendirian mereka.[28] Namun, pada 1965, Roger Penrose membuktikan bahwa relativitas umum memprediksi kemunculan singularitas dalam semua lubang hitam,[29] meskipun hal ini mungkin tidak tetap berlaku ketika mekanika kuantum diperhitungkan.[30]

Pengamatan astronomi juga mengalami kemajuan besar pada era ini. Pada 1967, Antony Hewish dan Jocelyn Bell Burnell menemukan pulsar, dan pada 1969, objek-objek ini terbukti sebagai bintang neutron yang berotasi cepat. Hingga saat itu, bintang neutron, seperti lubang hitam, dianggap sekadar keingintahuan teoretis, tetapi penemuan pulsar menunjukkan relevansi fisiknya dan mendorong minat lebih lanjut terhadap semua jenis objek kompak yang mungkin terbentuk melalui keruntuhan gravitasi.[31] Namun, bukti eksperimental yang mengonfirmasi lubang hitam sangat sulit diperoleh dan pada akhirnya memerlukan upaya banyak astronom. Pengamatan teleskop sinar-X oleh tim Riccardo Giacconi pada 1971 menunjukkan bahwa Cygnus X-1 memancarkan sinar-X secara cepat dan sporadis, sesuai dengan sumber yang kompak. Objek ini menjadi kandidat lubang hitam pertama.[21]:153 Spektroskopi optik dan model astrofisika terperinci untuk Cygnus X-1 sesuai dengan sistem biner yang terdiri atas bintang masif dan bintang kompak yang menghasilkan sinar-X ketika gas dari bintang masif tetapi biasa tersedot ke pendamping kompaknya yang tak terlihat. (Pada 2011, massa bintang-bintang ini diperkirakan 14,1±1,0 massa Matahari untuk lubang hitam dan 19,2±1,9 massa Matahari untuk pendamping bintang optiknya.)[32] Pada 1974, objek tersebut secara luas dianggap sebagai lubang hitam, meskipun kepastian 100% untuk Cygnus X-1 mungkin tidak dapat dicapai.[7]:317

Karya James Bardeen, Carter, dan Hawking pada awal 1970-an menghasilkan perumusan termodinamika lubang hitam. Hukum-hukum ini menggambarkan perilaku lubang hitam dengan cara yang analog dengan hukum termodinamika. Jacob Bekenstein memperkuat analogi ini dengan sifat-sifat massa, luas permukaan, dan gravitasi permukaan lubang hitam yang masing-masing berkaitan dengan konsep termodinamika berupa energi, entropi, dan suhu. Analogi tersebut disempurnakan[7]:442 ketika Hawking, pada 1974, menunjukkan bahwa teori medan kuantum menyiratkan bahwa lubang hitam seharusnya memancarkan radiasi seperti benda hitam dengan suhu yang sebanding dengan gravitasi permukaan lubang hitam, sehingga memprediksi efek yang kini dikenal sebagai radiasi Hawking.[33]:415

Penelitian dan pengamatan modern

sunting
Grafik deteksi pertama gelombang gravitasi di bagian LIGO Hanford dan Livingston, disertai perbandingan dengan prediksi teoretis, derau, dan visualisasi. Pembacaannya tampak sebagai gelombang periodik yang meningkat magnitudonya seiring waktu sebelum tiba-tiba turun kembali.
Deteksi pertama gelombang gravitasi, dicitrakan oleh observatorium LIGO di Situs Hanford, Washington dan Livingston, Louisiana

Sementara Cygnus X-1, sebuah lubang hitam bermassa bintang, secara umum telah diterima oleh komunitas ilmiah sebagai lubang hitam pada akhir 1973,[34] masih diperlukan beberapa dasawarsa sebelum lubang hitam supermasif memperoleh pengakuan luas yang sama. Gagasan bahwa objek semacam itu mungkin ada bermula dari model-model yang menyarankan bahwa kuasar kuat atau inti galaksi aktif di pusat galaksi ditenagai oleh lubang hitam supermasif yang sedang mengakresi materi. Ketika Teleskop Antariksa Hubble diluncurkan pada 1990-an, studi optik terhadap pusat galaksi Messier 87 menunjukkan bahwa di sana pasti terdapat konsentrasi massa yang besar. Dua kandidat untuk massa ini adalah lubang hitam dan gugus bintang yang rapat. Pada 1995, spektrum gelombang mikro interferometrik dari Very Long Baseline Array mengamati maser H2O ketika mengorbit pusat NGC 4258, sebuah galaksi dengan massa pusat yang serupa. Parameter orbitnya menyingkirkan gugus bintang rapat sebagai penjelasan bagi inti galaksi, sehingga lubang hitam supermasif menjadi satu-satunya penjelasan yang masuk akal.[35]

Pada 1999, David Merritt mengusulkan hubungan M–sigma, yang mengaitkan dispersi kecepatan materi di tonjolan pusat sebuah galaksi dengan massa lubang hitam supermasif di intinya.[36] Studi-studi berikutnya mengonfirmasi korelasi ini.[37] Sekitar waktu yang sama, berdasarkan pengamatan teleskop terhadap kecepatan bintang-bintang di pusat galaksi Bima Sakti, kelompok-kelompok kerja independen yang dipimpin oleh Andrea Ghez dan Reinhard Genzel menyimpulkan bahwa sumber radio kompak di pusat galaksi, Sagittarius A*, kemungkinan besar adalah sebuah lubang hitam supermasif.[38][39]

Pada akhir 2015, Kolaborasi Ilmiah LIGO dan Kolaborasi Virgo melakukan deteksi langsung pertama gelombang gravitasi, yang dinamai GW150914, sekaligus menjadi pengamatan pertama atas penggabungan lubang hitam.[40] Pada saat penggabungan, lubang-lubang hitam tersebut berada sekitar 1,4 miliar tahun cahaya dari Bumi dan memiliki massa kira-kira 30 dan 35 kali massa Matahari.[41]:6 Pada 2017, Rainer Weiss, Kip Thorne, dan Barry Barish, yang telah memelopori proyek tersebut, dianugerahi Hadiah Nobel Fisika atas karya mereka.[42] Sejak penemuan awal pada 2015, ratusan gelombang gravitasi lainnya telah diamati.[43]

Di atas latar hitam ruang hampa, sebuah donat gas jingga-merah berada di pusat citra, dengan lingkaran hitam—bayangan lubang hitam—di tengah donat.
Citra oleh Teleskop Cakrawala Peristiwa dari lubang hitam supermasif di pusat Messier 87

Pada 10 April 2019, citra langsung pertama sebuah lubang hitam dan lingkungan sekitarnya dipublikasikan, berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh Teleskop Cakrawala Peristiwa (EHT) terhadap lubang hitam supermasif di pusat galaksi Messier 87.[44] Pada 2022, kolaborasi Event Horizon Telescope merilis citra lubang hitam di pusat galaksi Bima Sakti, Sagittarius A*; datanya telah dikumpulkan pada 2017.[45]

Pada 2020, Hadiah Nobel Fisika dianugerahkan untuk karya tentang lubang hitam. Andrea Ghez dan Reinhard Genzel berbagi setengah hadiah tersebut atas penemuan mereka bahwa Sagittarius A* adalah lubang hitam supermasif.[46] Penrose menerima setengah lainnya atas karyanya yang menunjukkan bahwa matematika relativitas umum menuntut terbentuknya lubang hitam.[47] Para kosmolog menyayangkan bahwa karya teoretis Hawking yang luas tentang lubang hitam tidak dapat dihormati karena ia telah meninggal pada 2018.[48]

Etimologi

sunting

Pada Desember 1967, seseorang di antara hadirin dilaporkan mengusulkan frasa black hole dalam sebuah kuliah oleh John Wheeler; Wheeler mengadopsi istilah itu karena keringkasannya dan "nilai iklannya", dan kedudukan Wheeler dalam bidang tersebut memastikan istilah itu cepat meluas,[21][49] sehingga sebagian pihak menyebut Wheeler sebagai pencipta frasa tersebut.[50] Namun, istilah itu juga digunakan oleh orang lain pada masa yang sama. Penulis sains Marcia Bartusiak menelusuri istilah black hole kepada fisikawan Robert H. Dicke, yang pada awal 1960-an dilaporkan membandingkan fenomena tersebut dengan Lubang Hitam Kalkuta, yang terkenal buruk sebagai penjara tempat orang masuk tetapi tidak pernah keluar hidup-hidup. Istilah tersebut digunakan dalam bentuk cetak oleh majalah Life dan Science News pada 1963, serta oleh jurnalis sains Ann Ewing dalam artikelnya Templat:" 'Black Holes' in Space", bertanggal 18 Januari 1964, yang merupakan laporan tentang sebuah pertemuan Asosiasi Amerika untuk Kemajuan Ilmu Pengetahuan yang diadakan di Cleveland, Ohio.[21]

Definisi

sunting

Lubang hitam umumnya didefinisikan sebagai wilayah ruang waktu yang tidak dapat diloloskan oleh sinyal atau objek pembawa informasi apa pun.[51] Namun, memverifikasi suatu objek sebagai lubang hitam berdasarkan definisi ini akan memerlukan penantian selama waktu tak berhingga dan pada jarak tak berhingga dari lubang hitam untuk memastikan bahwa tidak ada apa pun yang lolos, sehingga definisi ini tidak dapat digunakan untuk mengidentifikasi lubang hitam fisik.[52] Terdapat beberapa definisi lain yang dapat digunakan untuk menggambarkan atau mengidentifikasi lubang hitam, sehingga menghasilkan beragam cara untuk mempelajarinya. Pengamatan astronomi mengukur massa objek, dan teori keruntuhan gravitasi memprediksi bahwa sebuah objek kompak dengan massa lebih besar daripada tiga massa Matahari hanya dapat berupa lubang hitam: batas ini telah menjadi definisi observasional.[53] Lubang hitam juga dapat didefinisikan sebagai penampung informasi[54]:142 atau suatu wilayah tempat ruang jatuh ke dalam lebih cepat daripada kecepatan cahaya.[55][56]

Teorema tanpa rambut menetapkan bahwa, setelah mencapai keadaan stabil seusai pembentukannya, sebuah lubang hitam hanya memiliki tiga sifat fisik independen: massa, muatan listrik, dan momentum sudut; selain itu, lubang hitam tidak memiliki ciri lain. Dua lubang hitam mana pun yang memiliki nilai yang sama untuk sifat-sifat, atau parameter, tersebut tidak dapat dibedakan satu sama lain. Sebuah konjektur tanpa rambut yang terkait mengusulkan bahwa keruntuhan gravitasi dinamis selalu menghasilkan objek yang dicirikan hanya oleh tiga sifat ini.[57] Konjektur tersebut saat ini masih merupakan masalah yang belum terpecahkan.[58] Teorema tanpa rambut juga membuat asumsi-asumsi teridealisasi selain kesetimbangan yang mungkin tidak berlaku bagi objek-objek astrofisika.[59]

Model lubang hitam setimbang yang paling sederhana, yang hanya memiliki massa tetapi tidak memiliki muatan listrik maupun momentum sudut, disebut lubang hitam Schwarzschild. Lubang hitam bermuatan yang tidak berotasi dijelaskan oleh metrik Reissner–Nordström, sedangkan metrik Kerr menjelaskan lubang hitam berotasi yang tidak bermuatan. Solusi lubang hitam stasioner paling umum yang diketahui adalah metrik Kerr–Newman, yang menjelaskan lubang hitam dengan muatan sekaligus momentum sudut.[60]

Radius bayangan dan bola foton relatif terhadap cakrawala peristiwa

Lubang hitam statis paling sederhana memiliki massa tetapi tidak memiliki muatan listrik maupun momentum sudut. Bertentangan dengan anggapan populer bahwa lubang hitam "mengisap segala sesuatu" di sekitarnya, dari jarak jauh, medan gravitasi eksternal sebuah lubang hitam identik dengan medan gravitasi benda lain yang memiliki massa sama.[61]

Meskipun secara teoretis lubang hitam dapat memiliki massa positif berapa pun, muatan dan momentum sudutnya dibatasi oleh massanya, dengan batas ini lebih besar bagi lubang hitam yang lebih masif. Muatan listrik bersih dan momentum sudut total memenuhi pertidaksamaan untuk sebuah lubang hitam bermassa , dengan adalah konstanta permitivitas vakum, adalah kecepatan cahaya, dan adalah konstanta gravitasi. Lubang hitam dengan kombinasi muatan dan spin maksimum yang mungkin serta memenuhi pertidaksamaan ini disebut lubang hitam ekstremal. Menambahkan objek bermassa rendah dengan muatan atau momentum sudut yang besar ke sebuah lubang hitam ekstremal akan menciptakan apa yang disebut singularitas telanjang, yaitu singularitas di luar lubang hitam.[62] Karena singularitas semacam itu membuat alam semesta pada dasarnya tidak dapat diprediksi, banyak fisikawan meyakini bahwa singularitas tersebut tidak mungkin ada.[63] Hipotesis sensor kosmik lemah, yang diajukan oleh Penrose, menyingkirkan pembentukan singularitas semacam itu ketika ia tercipta melalui keruntuhan gravitasi materi realistis. Hipotesis ini tetap menjadi bidang kajian penting karena belum terbukti dan berkaitan dengan banyak aspek relativitas umum serta gravitasi kuantum.[64]

Massa total lubang hitam yang berdekatan dapat diperkirakan dengan menganalisis gerak bintang atau gas yang mengelilinginya. Massa lubang hitam supermasif yang jauh dapat disimpulkan dari pelebaran Doppler garis-garis spektrum yang dipancarkan oleh gas yang mengorbit cepat, suatu teknik yang disebut pemetaan gema.[65]

Spin dan momentum sudut

sunting

Semua lubang hitam berputar, sering kali dengan cepat—salah satu lubang hitam bintang, GRS 1915+105, diperkirakan berputar lebih dari 1.000 putaran per detik.[66] Lubang hitam pusat Bima Sakti, Sagittarius A*, berotasi sekitar 90% dari laju maksimum yang mungkin.[67]

Laju spin dapat disimpulkan dari pengukuran garis spektrum atomik dalam rentang sinar-X. Ketika gas di dekat lubang hitam jatuh ke dalam, emisi sinar-X berenergi tinggi dari pasangan elektron-positron menerangi gas yang berada lebih jauh, sehingga tampak bergeser merah akibat efek relativistik. Bergantung pada spin lubang hitam, penjatuhan ini terjadi pada radius yang berbeda-beda dari lubang tersebut, dengan derajat pergeseran merah yang berbeda pula. Para astronom dapat menggunakan celah antara emisi sinar-X dari piringan luar dan emisi tergeser merah dari materi yang jatuh untuk menentukan spin lubang hitam.[68]

Cara yang lebih baru untuk memperkirakan spin didasarkan pada suhu gas yang mengakresi ke lubang hitam. Metode ini memerlukan pengukuran independen massa lubang hitam dan sudut inklinasi piringan akresi, yang kemudian diikuti dengan pemodelan komputer. Gelombang gravitasi dari lubang hitam biner yang berkoalesensi juga dapat memberikan spin kedua lubang hitam progenitor dan lubang hasil penggabungan, tetapi peristiwa semacam itu jarang terjadi.[68]

Lubang hitam yang berputar memiliki momentum sudut. Metrik Kerr adalah solusi persamaan medan Einstein untuk lubang hitam berotasi. Selain radius Schwarzschild, , metrik ini mencakup parameter rotasi, di mana adalah momentum sudut lubang hitam. Lubang hitam ekstremal memiliki , yang berkaitan dengan .[69]:467 Lubang hitam supermasif di pusat galaksi Messier 87 (M87) tampaknya memiliki parameter rotasi sebesar 0,90±0,05, sangat mendekati nilai teoretis maksimum.[70]

Muatan

sunting

Lubang hitam diyakini memiliki muatan yang kira-kira netral. Sebagai contoh, Michal Zajaček, Arman Tursunov, Andreas Eckart, dan Silke Britzen menemukan bahwa muatan listrik Sagittarius A* setidaknya sepuluh orde magnitudo di bawah nilai maksimum teoretis.[71] Jika sebuah lubang hitam menjadi bermuatan, partikel-partikel dengan tanda muatan berlawanan akan tertarik masuk oleh tambahan gaya elektromagnetik, sedangkan partikel-partikel dengan tanda muatan yang sama akan ditolak, sehingga menetralkan lubang hitam tersebut. Efek ini berlangsung lebih cepat lagi jika lubang hitam itu juga berputar.[72] Lubang hitam yang berputar dalam medan magnet menciptakan medan listrik yang akan berinteraksi dengan partikel-partikel bermuatan.[71] Karena lubang hitam memiliki begitu sedikit sifat intrinsik yang dapat diukur, teknik untuk mengukur muatan menjadi menarik bagi astrofisika meskipun nilainya mungkin sangat kecil.[73]

Muatan Q untuk lubang hitam yang tidak berputar dibatasi oleh dengan G adalah konstanta gravitasi dan M adalah massa lubang hitam.[74]

Klasifikasi

sunting
Klasifikasi lubang hitam
KelasMassa
perkiraan
Radius
perkiraan
Lubang hitam ultramasif1091011 M>1.000 SA
Lubang hitam supermasif106109 M0,001–400 SA
Lubang hitam bermassa menengah[75]102105 M103 km ≈ RBumi
Lubang hitam bintang2–150 M30 km
Lubang hitam mikrohingga MBulanhingga 0,1 mm

Lubang hitam diklasifikasikan berdasarkan teori pembentukannya dan berdasarkan massanya (dinyatakan dalam M, massa Matahari), tetapi kedua kriteria ini saling berkaitan. Lubang hitam bintang terbentuk melalui keruntuhan bintang. Massa minimum lubang hitam yang terbentuk melalui keruntuhan gravitasi bintang ditentukan oleh massa maksimum bintang neutron dan diyakini sebesar 2-4 M.[76] Lubang hitam primordial hipotetis, yang diyakini terbentuk tidak lama setelah Dentuman Besar, dapat berukuran jauh lebih kecil, dengan massa hanya sekitar 10−5 gram saat terbentuk.[77] Lubang hitam yang sangat kecil ini kadang-kadang disebut lubang hitam mikro.[78][79]

Lubang hitam bintang dapat memiliki rentang massa yang luas. Perkiraan massa maksimumnya saat terbentuk bervariasi, tetapi umumnya berada dalam kisaran 10-100 M, dengan perkiraan lebih tinggi untuk lubang hitam yang berasal dari bintang-bintang bermetalisitas rendah.[80] Lubang hitam bintang dapat memperoleh massa melalui akresi materi di dekatnya, sering kali dari objek pendamping seperti bintang[81][82] atau melalui penggabungan dengan lubang hitam lain.[40]

Sejumlah kecil kandidat lubang hitam dengan massa dalam rentang Templat:Value-Templat:Value M telah dilaporkan. Objek-objek ini lebih besar daripada lubang hitam bintang tetapi lebih kecil daripada lubang hitam supermasif, lebih jarang daripada kedua ekstrem tersebut, dan disebut lubang hitam bermassa menengah.[75] Para fisikawan berspekulasi bahwa lubang hitam semacam itu dapat terbentuk dari tumbukan di gugus bola dan bintang atau di pusat galaksi bermassa rendah.[83] Lubang hitam ini juga dapat terbentuk sebagai hasil penggabungan lubang hitam yang lebih kecil, dengan beberapa pengukuran gelombang gravitasi sesuai dengan lubang hitam hasil penggabungan dalam rentang 110–350 M.[84]

Lubang hitam dengan massa terbesar disebut lubang hitam supermasif, dengan massa lebih dari Templat:Value M.[85] Lubang hitam ini diyakini berada di pusat hampir setiap galaksi besar, termasuk Bima Sakti.[86] Sebagian ilmuwan mengusulkan subkategori lubang hitam yang bahkan lebih besar, disebut lubang hitam ultramasif, dengan massa lebih besar daripada Templat:Value-Templat:Value M.[87][88] Model teoretis memprediksi bahwa piringan akresi yang memasok materi ke lubang hitam akan menjadi tidak stabil setelah lubang hitam mencapai 50×109100×109 M, sehingga menetapkan batas atas kasar bagi massa lubang hitam.[89][90]

Struktur

sunting

Meskipun secara konseptual lubang hitam merupakan penyerap tak terlihat bagi semua materi dan cahaya, dalam konteks astronomi gravitasinya yang sangat besar mengubah gerak objek-objek di sekitarnya dan menarik gas di dekatnya ke arah dalam dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya, sehingga kawasan di sekitar lubang hitam menjadi salah satu objek paling terang di alam semesta.[91]

Geometri luar

sunting

Semburan relativistik

sunting
Lihat keterangan.
Semburan relativistik dari lubang hitam supermasif di Centaurus A membentang secara tegak lurus dari galaksi.

Sebagian lubang hitam memiliki semburan relativistik—aliran tipis plasma yang bergerak menjauhi lubang hitam dengan kecepatan lebih dari 90% kecepatan cahaya.[92] Sebagian kecil materi yang jatuh menuju lubang hitam dipercepat menjauh sepanjang sumbu rotasi lubang tersebut.[93] Semburan ini dapat membentang hingga jutaan tahun cahaya dari lubang hitam itu sendiri.[94]

Lubang hitam dengan massa berapa pun dapat memiliki semburan.[95] Namun, semburan tersebut biasanya diamati di sekitar lubang hitam yang berputar dengan piringan akresi bermagnet kuat.[96][97] Semburan relativistik lebih umum di alam semesta awal, ketika galaksi dan lubang hitam supermasif yang bersesuaian dengannya sedang bertambah massa dengan cepat.[96][98] Semua lubang hitam dengan semburan juga memiliki piringan akresi,[92] tetapi semburan biasanya lebih terang daripada piringannya.[99] Kuasar, yang biasanya ditemukan di galaksi lain, diyakini sebagai lubang hitam supermasif dengan semburan; mikrokuasar diyakini sebagai objek bermassa bintang dengan semburan, yang biasanya diamati di Bima Sakti.[100]

Semburan dapat ditenagai baik oleh piringan akresi maupun oleh spin lubang hitam yang berputar. Meskipun banyak rincian semburan telah dipelajari, belum ada model lengkap yang muncul. Salah satu metode yang diusulkan untuk menggerakkan semburan ini adalah proses Blandford-Znajek, yang menyatakan bahwa penarikan garis medan magnet oleh rotasi lubang hitam dapat meluncurkan semburan materi ke ruang angkasa.[96] Proses Penrose, yang melibatkan ekstraksi energi rotasi lubang hitam, juga telah diusulkan sebagai mekanisme potensial pendorong semburan.[101][102] Terdapat bukti bahwa semburan pada semua skala, dari mikrokuasar hingga semburan sinar gama, dapat dihasilkan oleh satu mekanisme tunggal.[95]

Piringan akresi

sunting
Sebuah lubang hitam dengan piringan akresi jingga-merah. Piringan itu melilit lubang hitam dalam bentuk cincin melintasi bagian tengahnya dan setengah lingkaran di sekitar bagian atas dan bawah lubang hitam. Setengah lingkaran tersebut sebenarnya adalah bagian piringan akresi yang berada di belakang lubang hitam, dan tampak terlensa secara gravitasi sehingga terlihat di atas dan di bawah lubang tersebut.
Visualisasi lubang hitam dengan piringan akresi berwarna jingga. Bagian piringan yang tampak mengelilingi di atas dan di bawah lubang sebenarnya terlensa secara gravitasi dari sisi belakang lubang hitam.[103][104]

Karena kekekalan momentum sudut, gas yang jatuh ke dalam sumur gravitasi yang diciptakan oleh objek masif biasanya akan membentuk struktur menyerupai piringan di sekitar objek tersebut.[105]:242 Ketika momentum sudut piringan dipindahkan ke arah luar akibat proses-proses seperti turbulensi dalam piringan, materinya jatuh lebih jauh ke dalam, mengubah energi gravitasinya menjadi panas dan melepaskan radiasi dalam jumlah besar; jika tidak ada peristiwa ledakan, tekanan radiasi membatasi laju akresi.[106]:165 Suhu piringan ini dapat berkisar dari ribuan hingga jutaan kelvin, dan suhu berbeda-beda di seluruh bagian satu piringan akresi.[107][108] Piringan akresi memancarkan radiasi di seluruh spektrum elektromagnetik, bergantung pada turbulensi dan magnetisasi piringan serta massa dan momentum sudut lubang hitam.[109]

Piringan akresi dapat didefinisikan sebagai tipis secara geometris atau tebal secara geometris. Piringan yang tipis secara geometris sebagian besar terbatas pada bidang ekuator lubang hitam dan memiliki tepi yang terdefinisi jelas pada orbit lingkaran stabil terdalam (ISCO), sedangkan piringan yang tebal secara geometris ditopang oleh tekanan dan suhu internal serta dapat membentang ke dalam ISCO. Piringan dengan tingkat hamburan elektron dan penyerapan yang tinggi, yang tampak terang dan opak, disebut tebal optik; piringan tipis optik lebih tembus cahaya dan menghasilkan citra yang lebih redup ketika dilihat dari jauh.[110] Piringan akresi lubang hitam yang mengakresi melampaui batas Eddington sering disebut sebagai donat Polandia karena bentuknya yang tebal dan toroidal menyerupai donat.[111][112]

Piringan akresi kuasar diperkirakan memiliki "bentuk spektrum biru", yang berarti bahwa fluks per frekuensi sebanding dengan ; hal ini semula tidak teramati karena emisi dari debu yang mengelilingi objek-objek tersebut.[113] Sebaliknya, piringan untuk lubang hitam bintang kemungkinan akan tampak jingga, kuning, atau merah, dengan kawasan dalamnya menjadi bagian yang paling terang.[114] Warna piringan akresi juga dapat diubah oleh efek Doppler, dengan bagian piringan yang bergerak mendekati pengamat tampak lebih biru dan lebih terang, sedangkan bagian piringan yang bergerak menjauhi pengamat tampak lebih merah dan lebih redup.[115][116]

Orbit lingkaran stabil terdalam (ISCO)

sunting
Penggambaran artistik tiga lubang hitam, yang menunjukkan bahwa piringan akresi berada lebih dekat ke lubang hitam jika mengorbit searah dengan rotasi lubang hitam. Grafik di samping citra-citra ini menunjukkan perubahan pada spektrum sinar-X yang dilepaskan oleh piringan.
Karena partikel-partikel dalam piringan akresi lubang hitam harus mengorbit pada atau di luar ISCO, para astronom dapat mengamati sifat-sifat piringan akresi untuk menentukan spin lubang hitam.[117]

Dalam gravitasi Newton, partikel uji dapat mengorbit secara stabil pada jarak sembarang dari objek pusat. Namun, dalam relativitas umum, terdapat radius terkecil yang memungkinkan sebuah partikel bermassa mengorbit secara stabil. Setiap gangguan ke arah dalam yang sangat kecil pada orbit ini akan menyebabkan partikel berpilin masuk ke lubang hitam, dan setiap gangguan ke arah luar, bergantung pada energinya, akan menyebabkan partikel tersebut berpilin masuk, berpindah ke orbit stabil yang lebih jauh dari lubang hitam, atau lepas menuju tak berhingga. Orbit ini disebut orbit lingkaran stabil terdalam, atau ISCO.[118] Dalam kasus lubang hitam Schwarzschild (spin nol) dan partikel tanpa spin, lokasi ISCO adalah: di mana adalah radius ISCO, adalah radius Schwarzschild lubang hitam, adalah konstanta gravitasi, dan adalah kecepatan cahaya.[119] Untuk lubang hitam yang berputar, ISCO bergeser ke dalam bagi partikel yang mengorbit searah dengan putaran lubang hitam (prograd) dan bergeser ke luar bagi partikel yang mengorbit berlawanan arah (retrograd). Sebagai contoh, ISCO bagi partikel yang mengorbit retrograd dapat berada sejauh sekitar , sedangkan ISCO bagi partikel yang mengorbit prograd dapat sedekat cakrawala peristiwa itu sendiri. Radius orbit ini berubah sedikit bergantung pada spin partikel.[120] Untuk lubang hitam bermuatan, ISCO bergeser ke dalam.[121]

Bola foton dan bayangan

sunting

Video foton yang tertangkap oleh lubang hitam Schwarzschild

Bola foton adalah batas berbentuk bola tempat foton yang bergerak pada garis singgung terhadap bola tersebut dibelokkan sepenuhnya mengelilingi lubang hitam, dan mungkin mengorbit berkali-kali.[122] Untuk lubang hitam Schwarzschild, bola foton memiliki radius 1,5 kali radius Schwarzschild.[123][124]

Meskipun cahaya masih dapat lepas dari bola foton, setiap cahaya yang melintasi bola foton pada lintasan masuk akan tertangkap oleh lubang hitam. Oleh karena itu, setiap cahaya yang mencapai pengamat luar dari bola foton pasti telah dipancarkan oleh objek-objek di antara bola foton dan cakrawala peristiwa.[125] Cahaya yang dipancarkan ke arah bola foton juga dapat melengkung mengitari lubang hitam dan kembali ke pemancarnya.[126]

Untuk lubang hitam berotasi yang tidak bermuatan, radius bola foton bergantung pada parameter spin dan pada apakah foton mengorbit secara prograd atau retrograd.[119] Untuk foton yang mengorbit secara prograd, bola foton akan berada 0,5–1,5 radius Schwarzschild dari pusat lubang hitam, sedangkan untuk foton yang mengorbit secara retrograd, bola foton akan berada antara 3–4 radius Schwarzschild dari pusat lubang hitam. Lokasi tepat bola foton bergantung pada besar rotasi lubang hitam.[127] Untuk lubang hitam bermuatan yang tidak berotasi, hanya akan ada satu bola foton, dan radius bola foton akan mengecil seiring meningkatnya muatan lubang hitam.[128] Untuk lubang hitam bermuatan dan berotasi yang tidak ekstremal, selalu terdapat dua bola foton, dengan radius tepatnya bergantung pada parameter lubang hitam.[129]

Ketika dilihat dari jarak yang sangat jauh, bola foton menciptakan bayangan lubang hitam yang dapat diamati, yaitu siluet gelap lubang hitam terhadap bintang-bintang latar. Citra seperti yang diambil oleh Event Horizon Telescope menunjukkan bayangan lubang hitam, bukan cakrawala peristiwa itu sendiri.[130] Karena tidak ada cahaya yang muncul dari dalam lubang hitam, bayangan ini merupakan batas bagi kemungkinan pengamatan.[106]:152 Bayangan lubang hitam yang bertumbukan seharusnya memiliki bentuk melengkung yang khas, sehingga memungkinkan ilmuwan mendeteksi lubang hitam yang akan bergabung.[125]

Ergosfer

sunting
Ergosfer sebagai wilayah berbentuk kacang tanah yang menyentuh cakrawala peristiwa di bagian tengah lalu menggembung keluar di kutub-kutubnya. Lubang hitam yang digambarkan memiliki spin 99% dari maksimum.
Ergosfer adalah wilayah di luar cakrawala peristiwa, tempat objek tidak dapat tetap diam di posisinya.[131]

Di dekat lubang hitam yang berotasi, ruang waktu berotasi mirip pusaran. Ruang waktu yang berotasi akan menyeret materi dan cahaya apa pun ke dalam rotasi mengelilingi lubang hitam yang berputar. Efek relativitas umum ini, yang disebut penyeretan kerangka, menjadi semakin kuat ketika semakin dekat dengan massa yang berputar. Wilayah ruang waktu tempat mustahil untuk tetap diam disebut ergosfer.[68]

Ergosfer sebuah lubang hitam adalah volume yang dibatasi oleh cakrawala peristiwa lubang hitam dan ergopermukaan atau permukaan batas stasioner, yang berimpit dengan cakrawala peristiwa di kutub-kutubnya tetapi menggembung keluar darinya di sekitar ekuator.[131]

Materi dan radiasi dapat lepas dari ergosfer. Melalui proses Penrose, objek dapat keluar dari ergosfer dengan energi yang lebih besar daripada energi saat memasukinya. Energi tambahan tersebut diambil dari energi rotasi lubang hitam, sehingga memperlambat rotasi lubang hitam.[132]:268

Wilayah penjatuhan

sunting

Wilayah ruang waktu yang dapat diamati di sekitar lubang hitam dan paling dekat dengan cakrawala peristiwanya disebut wilayah penjatuhan. Di kawasan ini, materi yang jatuh bebas tidak lagi mungkin mengikuti orbit melingkar atau menghentikan penurunan akhirnya ke dalam lubang hitam. Sebaliknya, materi itu akan terjun cepat menuju lubang hitam dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya, menjadi semakin panas, dan menghasilkan emisi termal khas yang dapat dideteksi.[133][134] Namun, cahaya dan radiasi yang dipancarkan dari wilayah ini masih dapat lolos dari tarikan gravitasi lubang hitam.[135]

Radius

sunting

Untuk lubang hitam yang tidak berputar dan tidak bermuatan, radius cakrawala peristiwa, atau radius Schwarzschild, berbanding lurus dengan massa, M, melalui dengan rs adalah radius Schwarzschild, G adalah konstanta gravitasi, c adalah kecepatan cahaya, dan M adalah massa Matahari.[136]:124 Lubang hitam bermassa sama dengan spin tak nol memiliki dua radius:[69]:467 Sebagian besar lubang hitam yang diamati memiliki momentum sudut yang tampaknya mendekati nilai maksimum yang diperbolehkan: Untuk lubang hitam semacam itu, radiusnya akan mendekati[69]:467 Karena volume di dalam radius Schwarzschild meningkat sebanding dengan pangkat tiga radius, kerapatan rata-rata lubang hitam di dalam radius Schwarzschild-nya berbanding terbalik dengan kuadrat massanya: lubang hitam supermasif jauh kurang rapat daripada lubang hitam bintang. Kerapatan rata-rata lubang hitam bermassa 108 M sebanding dengan kerapatan air.[137]

Cakrawala peristiwa

sunting
Kerucut cahaya di dekat cakrawala peristiwa lubang hitam dengan panah-panah yang keluar darinya untuk menunjukkan arah yang dapat ditempuh partikel di sana. Letaknya cukup jauh dari cakrawala peristiwa sehingga tidak melengkung ke arah cakrawala peristiwa dan partikel di sana dapat bergerak ke segala arah.
Jauh dari lubang hitam, sebuah partikel dapat bergerak ke segala arah, seperti yang digambarkan oleh sekumpulan panah. Geraknya hanya dibatasi oleh kecepatan cahaya.
Kerucut cahaya yang sangat dekat dengan cakrawala peristiwa lubang hitam, dengan panah-panah yang keluar darinya untuk menunjukkan arah yang dapat ditempuh partikel di sana. Kerucut itu melengkung ke arah cakrawala peristiwa, dengan lebih banyak panah mengarah ke cakrawala peristiwa daripada menjauhinya, tetapi partikel masih dapat bergerak menjauhi cakrawala peristiwa.
Lebih dekat ke lubang hitam, ruang waktu mulai berubah bentuk. Lebih banyak lintasan mengarah ke lubang hitam daripada lintasan yang menjauh.
Kerucut cahaya di dalam cakrawala peristiwa lubang hitam, dengan panah-panah yang keluar darinya untuk menunjukkan arah yang dapat ditempuh partikel di sana. Semua panah mengarah lebih jauh ke dalam cakrawala peristiwa, tanpa satu pun mengarah keluar.
Di dalam cakrawala peristiwa, semua lintasan membawa partikel lebih dekat ke pusat lubang hitam. Partikel tidak lagi mungkin lepas. (Diagram ini merupakan versi "kartun" dari diagram koordinat Eddington–Finkelstein; dalam koordinat lain, kerucut cahaya tidak miring dengan cara seperti ini.[118]:848)

Ciri penentu lubang hitam adalah keberadaan cakrawala peristiwa, suatu batas dalam ruang waktu yang hanya dapat dilalui materi dan cahaya ke arah dalam, menuju pusat lubang hitam. Tidak ada apa pun, bahkan cahaya, yang dapat lolos dari dalam cakrawala peristiwa.[138][139] Cakrawala peristiwa disebut demikian karena apabila suatu peristiwa terjadi di dalam batas tersebut, informasi dari peristiwa itu tidak dapat mencapai atau memengaruhi pengamat luar, sehingga mustahil untuk menentukan apakah peristiwa semacam itu terjadi.[140]:179 Untuk lubang hitam yang tidak berotasi, geometri cakrawala peristiwa berbentuk bola sempurna, sedangkan untuk lubang hitam yang berotasi, cakrawala peristiwanya berbentuk pepat.[141][142][131]

Bagi pengamat jauh, jam di dekat lubang hitam akan tampak berdetak lebih lambat daripada jam yang lebih jauh dari lubang hitam.[143]:217[144] Efek ini, yang dikenal sebagai dilatasi waktu gravitasi, juga akan menyebabkan objek yang jatuh ke dalam lubang hitam tampak melambat ketika mendekati cakrawala peristiwa, dan dari sudut pandang pengamat luar tidak pernah benar-benar mencapai cakrawala tersebut.[143]:218 Semua proses pada objek ini akan tampak melambat, dan cahaya apa pun yang dipancarkan oleh objek tersebut akan tampak lebih merah dan lebih redup, suatu efek yang dikenal sebagai pergeseran merah gravitasi.[145] Sebuah objek yang jatuh dari setengah radius Schwarzschild di atas cakrawala peristiwa akan memudar hingga tidak lagi terlihat, menghilang dari pandangan dalam seperseratus detik untuk lubang hitam bermassa 8 massa Matahari.[146] Objek itu juga akan tampak merata pada lubang hitam, bergabung dengan semua materi lain yang pernah jatuh ke dalam lubang tersebut.[147]

Sebaliknya, pengamat yang jatuh ke dalam lubang hitam tidak akan memperhatikan efek-efek ini ketika melintasi cakrawala peristiwa. Jam mereka sendiri bagi mereka tampak berdetak secara normal, dan mereka melintasi cakrawala peristiwa setelah waktu yang berhingga tanpa mencatat adanya perilaku singular apa pun.[148] Dalam relativitas umum, lokasi cakrawala peristiwa mustahil ditentukan melalui pengamatan lokal, karena prinsip ekuivalensi Einstein.[143]:222

Geometri dalam

sunting

Cakrawala Cauchy

sunting

Lubang hitam yang berotasi dan/atau bermuatan memiliki cakrawala dalam, yang sering disebut cakrawala Cauchy, di bagian dalam lubang hitam.[149] Cakrawala dalam terbagi menjadi dua segmen: bagian masuk dan bagian keluar.[150]

Pada bagian masuk cakrawala Cauchy, radiasi dan materi yang jatuh ke dalam lubang hitam akan menumpuk di cakrawala, menyebabkan kelengkungan ruang waktu menuju tak berhingga. Hal ini akan membuat pengamat yang jatuh ke dalam mengalami gaya pasang surut.[149][150] Fenomena ini sering disebut inflasi massa, karena berkaitan dengan sebuah parameter yang menentukan massa internal lubang hitam bertumbuh secara eksponensial,[149][151] dan penumpukan gaya pasang surut ini disebut singularitas inflasi massa[152][150] atau singularitas cakrawala Cauchy.[153][154] Sebagian fisikawan berpendapat bahwa pada lubang hitam realistis, akresi dan radiasi Hawking akan menghentikan terjadinya inflasi massa.[155][156]

Pada bagian keluar cakrawala dalam, radiasi yang jatuh ke dalam akan terhambur balik oleh kelengkungan ruang waktu lubang hitam dan bergerak ke luar, lalu menumpuk di cakrawala Cauchy bagian keluar. Hal ini akan menyebabkan pengamat yang jatuh ke dalam mengalami gelombang kejut gravitasi dan gaya pasang surut ketika kelengkungan ruang waktu di cakrawala bertambah hingga tak berhingga. Penumpukan gaya pasang surut ini disebut singularitas kejut.[151][150]

Dalam teorema singularitas Penrose-Hawking, kedua singularitas ini bersifat lemah, yang berarti bahwa objek yang melintasinya hanya akan terdeformasi dalam jumlah berhingga oleh gaya pasang surut, meskipun kelengkungan ruang waktu di singularitas tetap tak berhingga. Hal ini berbeda dengan singularitas kuat, ketika objek yang mengenai singularitas akan diregangkan dan dimampatkan dalam jumlah tak berhingga.[152][151] Keduanya juga merupakan singularitas nul, yang berarti bahwa sebuah foton dapat bergerak sejajar dengannya tanpa pernah dicegat.[150]

Singularitas

sunting

Dengan mengabaikan efek kuantum, setiap lubang hitam memiliki singularitas di dalamnya, yaitu titik-titik tempat kelengkungan ruang waktu menjadi tak berhingga, dan geodesik berakhir dalam waktu wajar yang berhingga.[143]:205[157] Untuk lubang hitam yang tidak berotasi, wilayah ini berbentuk satu titik; untuk lubang hitam yang berotasi, wilayah ini melebar membentuk singularitas cincin yang terletak pada bidang rotasi.[143]:264 Dalam kedua kasus tersebut, wilayah singular memiliki volume nol. Seluruh massa lubang hitam pada akhirnya berada dalam singularitas.[143]:252 Karena singularitas memiliki massa tak nol dalam ruang yang sangat kecil tak berhingga, singularitas dapat dianggap memiliki kerapatan tak berhingga.[158]

Objek yang mendekati singularitas gravitasi akan mengalami osilasi kacau ruang waktu.[159]

Pengamat yang jatuh ke dalam lubang hitam Schwarzschild (yakni yang tidak berotasi dan tidak bermuatan) tidak dapat menghindari terbawa ke dalam singularitas setelah melintasi cakrawala peristiwa.[160][161] Ketika mereka jatuh lebih jauh ke dalam lubang hitam, mereka akan tercabik oleh gaya pasang surut yang kian membesar dalam proses yang kadang-kadang disebut spagetifikasi atau efek mi. Pada akhirnya, mereka akan mencapai singularitas dan dihancurkan menjadi titik yang sangat kecil tak berhingga.[140]:182 Namun, setiap gangguan, seperti yang disebabkan oleh materi atau radiasi yang jatuh ke dalam, akan menyebabkan ruang berosilasi secara kacau di dekat singularitas. Setiap materi yang jatuh ke dalam akan mengalami gaya pasang surut kuat yang berubah arah dengan cepat, sementara semuanya dimampatkan ke dalam volume yang semakin kecil.[162][144]:231

Bentuk-bentuk alternatif relativitas umum, termasuk penambahan sejumlah efek kuantum, dapat menghasilkan lubang hitam reguler, atau nonsingular, tanpa singularitas.[163][164] Sebagai contoh, model fuzzball, yang didasarkan pada teori dawai, menyatakan bahwa lubang hitam sebenarnya tersusun dari keadaan mikro kuantum dan tidak harus memiliki singularitas maupun cakrawala peristiwa.[165][166] Teori gravitasi kuantum loop mengusulkan bahwa kelengkungan dan kerapatan di pusat lubang hitam sangat besar, tetapi tidak tak berhingga.[167]

Pembentukan

sunting

Lubang hitam terbentuk melalui keruntuhan gravitasi bintang masif, baik melalui keruntuhan langsung maupun selama ledakan supernova dalam proses yang disebut jatuh balik.[168] Lubang hitam dapat dihasilkan dari penggabungan dua bintang neutron atau sebuah bintang neutron dan lubang hitam.[169] Mekanisme lain yang lebih spekulatif mencakup lubang hitam primordial yang tercipta dari fluktuasi kerapatan di alam semesta awal, keruntuhan bintang gelap, yakni objek hipotetis yang ditenagai oleh anihilasi materi gelap, atau dari materi gelap berinteraksi-diri hipotetis.[170]

Supernova

sunting

Keruntuhan gravitasi terjadi ketika tekanan internal suatu objek tidak cukup untuk menahan gravitasi objek itu sendiri. Pada akhir kehidupan sebuah bintang, bintang tersebut akan kehabisan hidrogen untuk difusikan, lalu mulai memfusikan unsur-unsur yang makin masif, hingga mencapai besi. Karena fusi unsur yang lebih berat daripada besi akan memerlukan lebih banyak energi daripada yang dilepaskannya, fusi nuklir berhenti. Jika inti besi bintang terlalu masif, bintang tersebut tidak lagi mampu menopang dirinya sendiri dan akan mengalami keruntuhan gravitasi.[171]

Massa lubang hitam yang terbentuk melalui supernova memiliki batas bawah: jika bintang progenitornya terlalu kecil, keruntuhan dapat dihentikan oleh tekanan degenerasi penyusun bintang, sehingga memungkinkan pemadatan materi ke dalam keadaan eksotik yang lebih rapat. Tekanan degenerasi terjadi akibat prinsip larangan Pauli: partikel-partikel akan menolak berada di tempat yang sama satu sama lain. Bintang progenitor dengan massa kurang dari sekitar 8 M akan menjadi katai putih, tempat tekanan degenerasi elektron menyeimbangkan gravitasi. Untuk bintang progenitor yang lebih masif, gaya gravitasi mengatasi tekanan degenerasi elektron dan bintang termampatkan hingga tekanan degenerasi neutron menahan gravitasi, membentuk bintang neutron. Jika bintang itu bahkan lebih masif, tekanan degenerasi neutron tidak akan mampu menahan gaya gravitasi dan bintang akan runtuh menjadi lubang hitam.[172][143]:5.8

Meskipun sebagian besar energi yang dilepaskan selama keruntuhan gravitasi dipancarkan dengan sangat cepat, seorang pengamat luar sebenarnya tidak melihat akhir dari proses ini. Walaupun keruntuhan berlangsung dalam waktu berhingga dari kerangka acuan materi yang jatuh ke dalam, seorang pengamat jauh akan melihat materi yang jatuh melambat dan berhenti tepat di atas cakrawala peristiwa, akibat dilatasi waktu gravitasi. Cahaya dari materi yang runtuh memerlukan waktu yang semakin lama untuk mencapai pengamat, dengan keterlambatan yang bertambah hingga tak berhingga ketika materi pemancar mencapai cakrawala peristiwa. Dengan demikian, pengamat luar tidak pernah melihat pembentukan cakrawala peristiwa; sebaliknya, materi yang runtuh tampak menjadi semakin redup dan makin bergeser merah, hingga akhirnya memudar.[173]

Mekanisme lain

sunting

Pengamatan terhadap kuasar dari masa kurang dari satu miliar tahun setelah Dentuman Besar[174][175] telah mendorong penyelidikan atas cara-cara lain untuk membentuk lubang hitam. Proses akresi untuk membangun lubang hitam supermasif memiliki laju akumulasi massa yang terbatas, dan satu miliar tahun tidak cukup untuk mencapai status kuasar. Salah satu usulan adalah keruntuhan langsung awan gas hidrogen yang hampir murni (bermetalisitas rendah), yang khas bagi alam semesta muda, membentuk bintang supermasif yang kemudian runtuh menjadi lubang hitam. Telah diusulkan bahwa lubang hitam benih dengan massa tipikal sekitar 105 M dapat terbentuk dengan cara ini, lalu dapat tumbuh hingga sekitar 109 M. Namun, jumlah gas yang sangat besar yang diperlukan untuk keruntuhan langsung biasanya tidak stabil terhadap fragmentasi, yang akan membentuk banyak bintang. Karena itu, pendekatan lain mengusulkan pembentukan bintang masif yang diikuti oleh tumbukan-tumbukan yang menghasilkan benih lubang hitam masif, yang pada akhirnya bergabung membentuk kuasar.[176]:85

Sebuah bintang neutron dalam selubung bersama dengan bintang biasa dapat mengakresi cukup banyak materi hingga runtuh menjadi lubang hitam, atau dua bintang neutron dapat bergabung. Jalur-jalur pembentukan lubang hitam ini dianggap relatif jarang.[177]

Lubang hitam primordial dan Dentuman Besar

sunting

Di alam semesta awal, fluktuasi ruang waktu mungkin telah membentuk kawasan-kawasan yang lebih rapat daripada lingkungannya. Ekspansi awal alam semesta yang sangat cepat mungkin memungkinkan kawasan-kawasan ini runtuh, membentuk lubang hitam primordial.[178] Berbagai model memprediksi penciptaan lubang hitam primordial dengan rentang massa dari massa Planck (~2,2×10−8 kg) hingga ratusan ribu massa Matahari. Lubang hitam primordial dengan massa kurang dari 1012 kg seharusnya telah menguap sekarang akibat radiasi Hawking.[179]

Meskipun alam semesta awal sangat rapat, ia tidak kembali runtuh menjadi lubang hitam selama Dentuman Besar, karena alam semesta mengembang dengan cepat dan tidak memiliki diferensial gravitasi yang diperlukan untuk pembentukan lubang hitam. Model keruntuhan gravitasi untuk objek-objek dengan ukuran yang relatif konstan, seperti bintang, tidak harus berlaku dengan cara yang sama bagi ruang yang mengembang cepat seperti Dentuman Besar.[180]

Tumbukan energi tinggi

sunting

Pada prinsipnya, lubang hitam dapat terbentuk dalam tumbukan partikel berenergi tinggi yang mencapai kerapatan yang memadai, meskipun belum ada peristiwa semacam itu yang terdeteksi.[181] Lubang hitam mikro hipotetis ini, yang dapat terbentuk dari tumbukan sinar kosmik dengan atmosfer Bumi atau dalam pemercepat partikel seperti Large Hadron Collider, tidak akan mampu mengumpulkan massa tambahan.[182] Sebaliknya, lubang hitam tersebut akan menguap dalam sekitar 10−25 detik, sehingga tidak menimbulkan ancaman bagi Bumi.[183]

Evolusi

sunting

Setelah lubang hitam terbentuk, ia dapat berubah melalui fenomena seperti penggabungan, akresi materi, dan penguapan melalui radiasi Hawking.[butuh rujukan]

Penggabungan

sunting
Simulasi dua lubang hitam bertumbukan

Lubang hitam dapat bergabung dengan objek lain seperti bintang atau lubang hitam lain. Hal ini diperkirakan penting, terutama dalam pertumbuhan awal lubang hitam supermasif, yang dapat terbentuk dari penggabungan banyak objek yang lebih kecil.[184] Proses ini juga telah diusulkan sebagai asal-usul sebagian lubang hitam bermassa menengah.[185][186] Penggabungan lubang hitam supermasif dapat memerlukan waktu lama: ketika sepasang lubang hitam supermasif saling mendekat, sebagian besar bintang di sekitarnya terlontar akibat ketapel gravitasi, sehingga hanya tersisa sedikit objek yang dapat berinteraksi secara gravitasi dengan lubang-lubang hitam tersebut dan memungkinkan keduanya makin mendekat. Fenomena ini disebut masalah parsec akhir, karena jarak tempat hal ini terjadi biasanya sekitar satu parsec.[187][188]

Akresi materi

sunting
Citra yang seluruhnya berwarna biru dari inti galaksi aktif Centaurus A sebagai titik terang di tengah dengan semburan relativistik terang yang menjauh darinya.
Inti galaksi aktif galaksi Centaurus A dalam cahaya sinar-X, yang diyakini ditenagai oleh lubang hitam supermasif (tengah) dan dikelilingi oleh biner sinar-X (titik-titik biru)

Ketika sebuah lubang hitam mengakresi materi, gas dalam piringan akresi bagian dalam mengorbit dengan kecepatan sangat tinggi karena kedekatannya dengan lubang hitam. Gas yang bergerak cepat ini mengalami gesekan dengan gas yang bergerak lebih lambat di piringan luar, sehingga memindahkan momentum sudut ke piringan luar. Hilangnya momentum sudut memaksa gas di piringan dalam mengorbit lebih dekat ke lubang hitam, dan energi potensial gravitasinya diubah menjadi energi termal. Proses ini memanaskan piringan dalam hingga mencapai suhu yang membuatnya memancarkan radiasi elektromagnetik dalam jumlah sangat besar (terutama sinar-X), yang dapat dideteksi oleh teleskop. Pada saat materi piringan mencapai ISCO, antara 5,7% dan 42% dari massanya telah diubah menjadi energi, bergantung pada spin lubang hitam. Sekitar 90% energi ini dilepaskan dalam 20 radius lubang hitam.[189] Dalam banyak kasus, piringan akresi disertai oleh semburan relativistik yang dipancarkan sepanjang kutub lubang hitam, yang membawa pergi sebagian besar energi.[190]

Banyak fenomena paling energetik di alam semesta telah dikaitkan dengan akresi materi ke lubang hitam. Inti galaksi aktif dan kuasar ditenagai oleh akresi ke lubang hitam supermasif.[191][192] Biner sinar-X umumnya diterima sebagai sistem biner yang salah satu dari dua objeknya merupakan objek kompak yang mengakresi materi dari pasangannya.[137] Sumber sinar-X ultraluminos dapat berupa piringan akresi lubang hitam bermassa menengah.[193]

Pada laju akresi tertentu, tekanan radiasi ke arah luar akan menjadi sekuat gaya gravitasi ke arah dalam, dan secara teori lubang hitam tidak dapat mengakresi lebih cepat lagi. Batas ini disebut batas Eddington. Dalam kenyataannya, banyak lubang hitam mengakresi melampaui laju ini karena geometri yang tidak berbentuk bola atau karena ketidakstabilan dalam piringan akresi. Akresi yang melampaui batas disebut akresi super-Eddington dan mungkin umum terjadi di alam semesta awal.[194][195]

Bintang-bintang telah diamati tercabik oleh gaya pasang surut di lingkungan sangat dekat lubang hitam supermasif di inti galaksi, dalam peristiwa yang dikenal sebagai peristiwa gangguan pasang surut (TDE). Sebagian materi dari bintang yang terganggu membentuk piringan akresi di sekitar lubang hitam, yang memancarkan radiasi elektromagnetik yang dapat diamati.[196][197]

Interaksi dengan galaksi

sunting

Korelasi antara massa lubang hitam supermasif di pusat galaksi dengan dispersi kecepatan dan massa bintang-bintang dalam tonjolan induknya menunjukkan bahwa pembentukan galaksi dan pembentukan lubang hitam pusatnya saling berkaitan. Angin lubang hitam dari akresi cepat, khususnya ketika galaksi itu sendiri masih mengakresi materi, dapat memampatkan gas di dekatnya sehingga mempercepat pembentukan bintang. Namun, jika angin menjadi terlalu kuat, lubang hitam dapat meniup hampir seluruh gas keluar dari galaksi, sehingga memadamkan pembentukan bintang. Semburan lubang hitam juga dapat memberi energi pada rongga plasma di dekatnya dan melontarkan gas ber-entropi rendah keluar dari inti galaksi, menyebabkan gas di pusat galaksi menjadi lebih panas daripada yang diperkirakan.[86]

Penguapan

sunting

Jika teori Hawking tentang radiasi lubang hitam benar, maka lubang hitam diperkirakan menyusut dan menguap seiring waktu ketika kehilangan massa melalui emisi foton dan partikel-partikel lain.[33]:420 Suhu spektrum termal ini (suhu Hawking) sebanding dengan gravitasi permukaan lubang hitam, yang berbanding terbalik dengan massanya. Oleh karena itu, lubang hitam besar memancarkan lebih sedikit radiasi daripada lubang hitam kecil.[143]:Ch. 9.6[198] Lubang hitam bintang bermassa 1 M memiliki suhu Hawking sebesar 62 nanokelvin.[199] Nilai ini jauh lebih kecil daripada suhu 2,7 K radiasi latar belakang gelombang mikro kosmik. Lubang hitam bermassa bintang atau lebih besar menerima lebih banyak massa dari latar belakang gelombang mikro kosmik daripada yang dipancarkannya melalui radiasi Hawking, sehingga akan tumbuh alih-alih menyusut.[200] Agar memiliki suhu Hawking lebih besar daripada 2,7 K (dan mampu menguap), lubang hitam harus memiliki massa lebih kecil daripada Bulan. Lubang hitam semacam itu akan memiliki diameter kurang dari sepersepuluh milimeter.[201]

Radiasi Hawking untuk lubang hitam astrofisika diprediksi sangat lemah sehingga akan amat sulit dideteksi dari Bumi. Kemungkinan pengecualian adalah semburan sinar gama berdurasi mikrodetik yang dipancarkan pada tahap akhir penguapan lubang hitam primordial. Pencarian ekstensif terhadap radiasi semacam itu terbukti tidak berhasil dan memberikan batas atas bagi kemungkinan keberadaan lubang hitam primordial bermassa rendah.[202]

Hukum mekanika dan termodinamika

sunting
Sebuah bola geodesik yang tersusun dari segitiga-segitiga dan diberi label sebagai cakrawala peristiwa lubang hitam. Setiap segitiga diberi label "satu luas Planck" dan "satu satuan entropi".
Entropi lubang hitam berskala dengan luas permukaan cakrawala peristiwanya.

Jika didasarkan pada relativitas umum, kendala atas sifat-sifat lubang hitam disebut hukum mekanika lubang hitam. Untuk lubang hitam yang tidak lagi sedang terbentuk atau mengakresi materi, hukum ke-nol mekanika lubang hitam menyatakan bahwa gravitasi permukaan lubang hitam konstan di seluruh cakrawala peristiwa. Hukum pertama mengaitkan perubahan luas permukaan, momentum sudut, dan muatan lubang hitam dengan perubahan energinya. Hukum kedua menyatakan bahwa luas permukaan lubang hitam tidak pernah berkurang dengan sendirinya. Terakhir, hukum ketiga menyatakan bahwa gravitasi permukaan lubang hitam tidak pernah bernilai nol. Hukum-hukum ini merupakan analog matematis dari hukum termodinamika. Namun, keduanya tidak ekuivalen karena, menurut relativitas umum tanpa mekanika kuantum, lubang hitam tidak pernah dapat memancarkan radiasi, sehingga suhunya harus selalu nol.[203]:11[204]

Mekanika kuantum memprediksi bahwa lubang hitam akan terus-menerus memancarkan radiasi Hawking termal, sehingga harus selalu memiliki suhu tak nol. Mekanika kuantum juga memprediksi bahwa semua lubang hitam memiliki entropi yang berskala dengan luas permukaannya. Ketika mekanika kuantum diperhitungkan, hukum mekanika lubang hitam menjadi ekuivalen dengan hukum termodinamika klasik.[203][205] Namun, kesimpulan-kesimpulan ini diturunkan tanpa teori gravitasi kuantum yang lengkap, meskipun banyak teori potensial memprediksi lubang hitam memiliki entropi dan suhu. Karena itu, sifat kuantum sejati dari termodinamika lubang hitam masih terus diperdebatkan.[203]:29[204]

Bukti pengamatan

sunting

Jutaan lubang hitam yang berasal dari keruntuhan bintang diperkirakan ada di Bima Sakti. Bahkan galaksi katai seperti Draco seharusnya memiliki ratusan.[206] Hanya sedikit di antaranya yang telah terdeteksi. Secara kodrati, lubang hitam sendiri tidak memancarkan radiasi elektromagnetik apa pun selain radiasi Hawking yang hipotetis dan biasanya sangat lemah, sehingga astrofisikawan yang mencari lubang hitam harus mengandalkan pengamatan tidak langsung. Ciri penentu lubang hitam adalah cakrawala peristiwanya. Cakrawala itu sendiri tidak dapat dicitrakan,[207] sehingga semua kemungkinan penjelasan lain atas pengamatan tidak langsung ini harus dipertimbangkan dan dieliminasi sebelum disimpulkan bahwa sebuah lubang hitam telah diamati.[208]:11

Interferometri langsung

sunting
Donat gas berwarna jingga yang mengelilingi lubang hitam, dengan garis-garis yang ditumpangkan di atas gas
Citra M87* dengan garis-garis yang ditumpangkan untuk mewakili besar dan arah polarisasi
M87* dengan semburan relativistik panjang yang memanjang darinya. Citra lubang hitam dari Event Horizon Telescope disisipkan.
Semburan relativistik M87*; sisipan menunjukkan bayangan lubang hitam

Teleskop Cakrawala Peristiwa (EHT) adalah sistem teleskop radio global yang mampu mengamati bayangan lubang hitam secara langsung.[44] Resolusi sudut sebuah teleskop didasarkan pada apertur dan panjang gelombang yang diamatinya. Karena diameter sudut Sagittarius A* dan Messier 87* di langit sangat kecil, sebuah teleskop tunggal harus berukuran kira-kira sebesar Bumi untuk membedakan cakrawala keduanya secara jelas menggunakan panjang gelombang radio. Dengan menggabungkan data dari beberapa teleskop radio berbeda di seluruh dunia, Event Horizon Telescope menciptakan apertur efektif sebesar diameter Bumi. Tim EHT menggunakan algoritma pencitraan untuk menghitung citra yang paling mungkin dari data dalam pengamatan Sagittarius A* dan M87*.[209][1]

Gelombang gravitasi

sunting

Interferometri gelombang gravitasi dapat digunakan untuk mendeteksi lubang hitam yang bergabung dan objek kompak lainnya. Dalam metode ini, seberkas laser dibagi, dikirim menyusuri dua lengan terowongan yang panjang, lalu dipantulkan di ujung jauh terowongan untuk kembali bertemu di persimpangan lengan dan saling meniadakan secara tepat. Namun, ketika gelombang gravitasi melintas, gelombang itu melengkungkan ruang waktu, mengubah panjang relatif lengan-lengan itu sendiri. Karena setiap berkas laser kini menempuh jarak yang sedikit berbeda, keduanya tidak saling meniadakan dan menghasilkan sinyal yang dapat dikenali. Analisis sinyal dapat memberi ilmuwan informasi tentang penyebab gelombang gravitasi tersebut. Karena gelombang gravitasi sangat lemah, observatorium gelombang gravitasi seperti LIGO harus memiliki lengan sepanjang beberapa kilometer dan mengendalikan derau dari Bumi secara cermat agar dapat mendeteksi gelombang gravitasi ini.[210] Sejak pengukuran pertama pada 2016, banyak gelombang gravitasi dari lubang hitam telah dideteksi dan dianalisis.[91]

Bintang yang mengorbit Sagittarius A*

sunting
Bintang-bintang bergerak mengelilingi Sagittarius A*, seperti yang terlihat pada 2021

Gerak diri bintang-bintang di dekat pusat Bima Sakti memberikan bukti pengamatan yang kuat bahwa bintang-bintang ini mengorbit lubang hitam supermasif. Para astronom telah melacak gerak lebih dari 100 bintang yang mengorbit objek tak terlihat yang berimpit dengan sumber radio Sagittarius A*. Salah satu bintang—disebut S2—telah menyelesaikan satu orbit penuh. Dengan mencocokkan gerak bintang-bintang ke orbit Kepler, para astronom dapat menyimpulkan bahwa objek tak terlihat yang diasumsikan sebagai Sagittarius A* pasti memiliki massa 4,3×106 M, dengan radius kurang dari 0,002 tahun cahaya.[211] Batas atas radius ini lebih besar daripada radius Schwarzschild untuk massa yang diperkirakan, sehingga kombinasi tersebut tidak membuktikan bahwa Sagittarius A* adalah lubang hitam. Namun demikian, pengamatan ini sangat menunjukkan bahwa objek pusat tersebut adalah lubang hitam supermasif, karena tidak ada skenario masuk akal lain untuk mengurung massa tak terlihat sebesar itu dalam volume sekecil itu.[39] Selain itu, data luminositas dari objek ini menyiratkan bahwa ia pasti memiliki cakrawala peristiwa, ciri penentu lubang hitam.[212] Dengan melacak gerak pusatnya, telah ditunjukkan bahwa objek pusat tersebut tidak bergerak di pusat galaksi.[213] Citra Sagittarius A* dari Event Horizon Telescope, yang dirilis pada 2022, memberikan konfirmasi lebih lanjut bahwa objek tersebut memang lubang hitam.[45]

Lubang hitam Cygnus X-1 sebagaimana terlihat oleh Observatorium Sinar-X Chandra, berupa titik terang di atas latar hitam.
Citra Observatorium Sinar-X Chandra dari Cygnus X-1, yang merupakan kandidat lubang hitam kuat pertama yang ditemukan

Biner sinar-X adalah sistem biner yang memancarkan radiasi sinar-X dalam jumlah besar. Emisi sinar-X ini dihasilkan ketika sebuah objek kompak mengakresi materi dari bintang biasa.[214] Keberadaan bintang biasa dalam sistem semacam itu memberikan kesempatan untuk mempelajari objek pusat dan menentukan apakah objek tersebut mungkin merupakan lubang hitam. Dengan mengukur periode orbit biner, jarak biner dari Bumi, dan massa bintang pendamping, para ilmuwan dapat memperkirakan massa objek kompak tersebut.[215] Batas Tolman-Oppenheimer-Volkoff (batas TOV) menentukan massa terbesar yang dapat dimiliki bintang neutron yang tidak berotasi, dan diperkirakan sekitar dua massa Matahari. Meskipun bintang neutron yang berotasi dapat sedikit lebih masif, jika objek kompak tersebut jauh lebih masif daripada batas TOV, objek itu tidak mungkin berupa bintang neutron dan secara umum diperkirakan sebagai lubang hitam.[137][216]

Biner sinar-X dapat dikategorikan sebagai bermassa rendah atau bermassa tinggi; pengelompokan ini didasarkan pada massa bintang pendamping, bukan pada objek kompak itu sendiri.[81] Dalam salah satu kelas biner sinar-X yang disebut transien sinar-X lunak, bintang pendampingnya bermassa relatif rendah, sehingga memungkinkan perkiraan massa lubang hitam yang lebih akurat. Sistem-sistem ini memancarkan sinar-X secara aktif hanya selama beberapa bulan setiap 10–50 tahun. Selama periode emisi sinar-X rendah, yang disebut keadaan diam, piringan akresinya sangat redup, sehingga memungkinkan pengamatan terperinci terhadap bintang pendamping.[137] Banyak kandidat lubang hitam telah diukur dengan metode ini.[217] Lubang hitam juga kadang-kadang ditemukan dalam sistem biner dengan objek kompak lain, seperti katai putih,[81] bintang neutron,[218][219] dan lubang hitam lain.[220][221]

Inti galaksi

sunting

Pusat hampir setiap galaksi besar mengandung lubang hitam supermasif.[86] Korelasi pengamatan yang erat antara massa lubang hitam ini dan dispersi kecepatan tonjolan galaksi induknya, yang dikenal sebagai hubungan M–sigma, sangat menunjukkan adanya kaitan antara pembentukan lubang hitam dan pembentukan galaksi itu sendiri.[222][223] Pada sebagian galaksi, lubang hitam membentuk sumber radiasi kuat yang disebut inti galaksi aktif.[224][65]

Inti galaksi aktif

sunting
Pusat Bima Sakti, dengan sisipan citra sinar-X Sagittarius A*
Deteksi suar sinar-X yang luar biasa terang dari Sagittarius A*, sebuah lubang hitam di pusat galaksi Bima Sakti pada September 2013[225]

Para astronom menggunakan istilah galaksi aktif untuk menggambarkan galaksi dengan ciri-ciri yang tidak biasa, seperti emisi garis spektrum yang tidak lazim dan emisi radio yang sangat kuat. Kajian teoretis dan pengamatan telah menunjukkan bahwa tingkat aktivitas yang tinggi di pusat galaksi-galaksi ini, kawasan yang disebut inti galaksi aktif (AGN), dapat dijelaskan oleh akresi ke lubang hitam supermasif. AGN ini terdiri atas lubang hitam pusat yang massanya dapat jutaan atau miliaran kali lebih besar daripada Matahari, piringan gas antarbintang dan debu yang disebut piringan akresi, serta dua semburan yang tegak lurus terhadap piringan akresi.[226] Lubang hitam dalam galaksi diam mengakresi materi lebih lambat atau memancarkan radiasi secara kurang efisien.[224][65]

Meskipun lubang hitam supermasif diperkirakan terdapat di sebagian besar AGN, hanya inti sejumlah galaksi yang telah dikaji secara lebih cermat dalam upaya untuk mengidentifikasi sekaligus mengukur massa sebenarnya dari kandidat lubang hitam supermasif pusat. Beberapa galaksi paling menonjol yang memiliki kandidat lubang hitam supermasif meliputi Galaksi Andromeda, Messier 32, Messier 87, Galaksi Sombrero, dan Bima Sakti itu sendiri.[227][228]

Pelensaan mikro

sunting
Diagram pelensaan mikro gravitasi: lubang hitam latar depan membelokkan cahaya dari bintang latar belakang, sehingga menciptakan dua citra bintang tersebut. Cahaya itu kemudian merambat ke teleskop-teleskop berbasis Bumi, tempat kedua citra tidak dapat dipisahkan dan tampak hanya sebagai satu bintang yang menjadi lebih terang.
Medan gravitasi kuat dari lubang hitam latar depan bertindak seperti lensa yang kuat, mendistorsi dan mencerahkan citra bintang latar belakang.

Lubang hitam dapat dideteksi melalui pelensaan gravitasi: pembelokan berkas cahaya oleh deformasi ruang waktu di sekitar objek masif.[229] Sebuah bintang jauh di belakang sumber gravitasi dapat menghasilkan banyak citra dari bintang tersebut, tetapi jika citra-citra itu tidak dapat dipisahkan, fenomena ini disebut pelensaan mikro.[230] Dalam pelensaan mikro, para astronom melihat bintang diperbesar dengan besaran yang berubah ketika bintang sumber, lensa, dan pengamat bergerak. Para astronom harus memantau citra bintang selama beberapa tahun dan mencocokkan kurva cahayanya dengan model efek gravitasi.[231] Sebagai alat astrofisika, pelensaan mikro memiliki kepekaan unik terhadap objek gelap seperti lubang hitam terisolasi yang tidak berpasangan dalam objek biner. Namun, perbandingan kurva cahaya yang diprediksi dengan pengamatan menghasilkan beberapa solusi yang tidak dapat dibedakan, sehingga memerlukan pengukuran lanjutan yang mahal untuk memilih dan mengonfirmasi kandidat lubang hitam. Lebih dari 10.000 peristiwa pelensaan mikro menghasilkan 23 kandidat lubang hitam, tetapi hanya satu objek yang telah dikonfirmasi sebagai lubang hitam terisolasi menggunakan pengukuran tambahan dari Teleskop Antariksa Hubble.[232]

Bidang penyelidikan

sunting

Paradoks hilangnya informasi

sunting
Masalah yang belum terpecahkan dalam fisika
Apakah informasi fisik hilang di dalam lubang hitam?

Menurut teorema tanpa rambut, sebuah lubang hitam hanya didefinisikan oleh tiga parameter: massa, muatan, dan momentum sudutnya. Hal ini tampaknya berarti bahwa semua informasi lain tentang materi yang masuk membentuk lubang hitam tersebut hilang, karena tidak ada cara untuk menentukan apa pun tentang lubang hitam dari luar selain tiga parameter itu. Ketika lubang hitam dahulu dianggap bertahan selamanya, hilangnya informasi ini tidak menjadi masalah, karena informasi dapat dianggap tetap berada di dalam lubang hitam.[233] Namun, lubang hitam perlahan menguap dengan memancarkan radiasi Hawking. Radiasi ini tampaknya tidak membawa informasi tambahan apa pun tentang materi yang membentuk lubang hitam, yang berarti informasi tersebut seolah-olah hilang untuk selamanya. Hal ini disebut paradoks informasi lubang hitam.[234][235] Kajian teoretis yang menganalisis paradoks ini telah melahirkan paradoks lanjutan sekaligus gagasan-gagasan baru tentang pertemuan antara mekanika kuantum dan relativitas umum. Meskipun belum ada konsensus mengenai penyelesaian paradoks ini, penelitian terhadap masalah tersebut diperkirakan penting bagi teori gravitasi kuantum.[236]:126

Lubang hitam supermasif di alam semesta awal

sunting
Dua galaksi spiral, salah satunya memiliki pusat yang sangat terang
Dua galaksi dari satu miliar tahun pertama setelah Dentuman Besar. Galaksi di sebelah kiri memiliki kuasar bercahaya di pusatnya.

Pengamatan galaksi-galaksi jauh menemukan bahwa kuasar ultraluminos, yang ditenagai oleh lubang hitam supermasif, telah ada di alam semesta awal hingga sejauh geseran merah kurang dari satu miliar tahun setelah Dentuman Besar.[237] Lubang hitam ini telah diasumsikan sebagai hasil keruntuhan gravitasi bintang populasi III yang besar.[238][239] Namun, sisa-sisa bintang ini tidak cukup masif untuk menghasilkan kuasar yang diamati pada masa awal tanpa mengakresi melampaui batas Eddington, yakni laju maksimum teoretis akresi lubang hitam.[240][241]

Para fisikawan telah mengusulkan berbagai mekanisme yang memungkinkan lubang hitam supermasif ini terbentuk. Telah diusulkan bahwa lubang hitam yang lebih kecil mungkin juga mengalami penggabungan untuk menghasilkan lubang hitam supermasif yang diamati.[242][243] Ada pula kemungkinan bahwa lubang hitam tersebut berawal dari lubang hitam runtuh langsung, ketika awan besar gas panas menghindari fragmentasi yang akan menghasilkan banyak bintang, akibat momentum sudut yang rendah atau pemanasan dari galaksi di dekatnya. Dalam keadaan yang tepat, sebuah bintang supermasif tunggal terbentuk dan runtuh langsung menjadi lubang hitam tanpa menjalani evolusi bintang yang lazim.[244][245] Selain itu, lubang hitam supermasif di alam semesta awal ini mungkin merupakan lubang hitam primordial bermassa tinggi, yang dapat mengakresi materi lebih lanjut di pusat galaksi.[246] Terakhir, mekanisme tertentu memungkinkan lubang hitam tumbuh lebih cepat daripada batas Eddington teoretis, seperti gas padat dalam piringan akresi yang membatasi tekanan radiasi ke luar yang mencegah lubang hitam mengakresi.[240][247] Namun, pembentukan semburan bipolar mencegah laju super-Eddington.[195]

Alternatif bagi lubang hitam

sunting

Meskipun terdapat dasar yang kuat bagi keberadaan lubang hitam supermasif,[248][249] garis pemisah antara lubang hitam yang lebih ringan dan bintang neutron bergantung pada teori materi yang sangat rapat. Uji pengamatan langsung tidak tersedia: objek yang diamati memiliki massa lebih tinggi daripada prediksi bagi bintang neutron diasumsikan sebagai lubang hitam. Bukti terbaru dari peristiwa gelombang gravitasi menunjukkan bahwa modifikasi terhadap teori-teori ini mungkin diperlukan.[80] Fase materi eksotik baru dapat memungkinkan jenis objek masif lainnya.[137] Bintang kuark akan tersusun dari materi kuark dan ditopang oleh tekanan degenerasi kuark, suatu bentuk tekanan degenerasi yang bahkan lebih kuat daripada tekanan degenerasi neutron. Hal ini akan menghentikan keruntuhan gravitasi pada massa yang lebih tinggi daripada bintang neutron.[250][251] Bintang yang bahkan lebih kuat, yang disebut bintang elektrolemah, akan mengubah kuark di intinya menjadi lepton, menyediakan tekanan tambahan untuk mencegah bintang runtuh.[252][253] Jika, sebagaimana diajukan oleh sebagian perluasan Model Standar, kuark dan lepton tersusun atas partikel fundamental yang bahkan lebih kecil yang disebut preon, sebuah bintang yang sangat kompak dapat ditopang oleh tekanan degenerasi preon.[254] Meskipun tidak satu pun dari model hipotetis ini dapat menjelaskan semua pengamatan terhadap kandidat lubang hitam bintang, bintang Q adalah satu-satunya alternatif yang dapat secara signifikan melampaui batas massa bagi bintang neutron dan dengan demikian menyediakan alternatif bagi lubang hitam supermasif.[137]:12

Beberapa objek teoretis telah dihipotesiskan cocok secara identik atau hampir identik dengan pengamatan kandidat lubang hitam astronomis, tetapi bekerja melalui mekanisme yang berbeda.[255] Sebuah bintang energi gelap akan mengubah materi yang jatuh ke dalamnya menjadi energi vakum; energi vakum ini akan jauh lebih besar daripada energi vakum ruang luar, sehingga memberikan tekanan ke luar dan mencegah terbentuknya singularitas.[256][257] Bintang hitam akan mengalami keruntuhan gravitasi dengan cukup lambat sehingga efek kuantum mempertahankannya tepat di ambang keruntuhan penuh menjadi lubang hitam.[258] Gravastar akan terdiri atas cangkang yang sangat tipis dan interior energi gelap yang memberikan tekanan ke luar untuk menghentikan keruntuhan menjadi lubang hitam atau pembentukan singularitas; objek ini bahkan dapat memiliki gravastar lain di dalamnya, yang disebut 'nestar'.[259]

Dalam fiksi

sunting
Lubang hitam di atas latar hitam yang dikelilingi piringan akresi berwarna jingga muda. Piringan itu melingkari bagian atas dan bawah lubang hitam, serta melintang di bagian depan seperti palang. Bola foton putih yang hampir melingkar tampak sedikit tersisip di dalam bayangan lubang hitam.
Lubang hitam dan piringan akresi yang digunakan dalam film Interstellar, tanpa suar lensa. Tim efek visual Interstellar menggunakan relativitas untuk memvisualisasikan pelensaan gravitasi di sekitar lubang hitam.[115]

Konsep lubang hitam telah mengilhami seniman maupun ilmuwan.[260] Dalam bukunya Conjuring the Void: the Art of Black Holes, Lynn Gamwell menggunakan lubang hitam sebagai contoh untuk menelaah bagaimana seni dan sains berinteraksi, dengan mempertimbangkan penerapan seni untuk menciptakan visualisasi ilmiah serta pengaruh gagasan ilmiah terhadap konsep-konsep seni seperti kegelapan.[261] Beberapa film fiksi ilmiah telah memasukkan relativitas ke dalam visualisasi lubang hitamnya, sehingga menghasilkan citra yang mirip dengan gambar yang diperoleh dari Teleskop Cakrawala Peristiwa.[262][115] Penggambaran lubang hitam dalam fiksi juga digunakan sebagai sarana untuk mengajarkan sains.[263][264]

Lubang hitam telah digambarkan dalam fiksi ilmiah dengan berbagai cara. Bahkan sebelum kemunculan istilah itu sendiri, objek-objek dengan ciri-ciri lubang hitam telah muncul dalam cerita.[265] Pada masa modern, para penulis dan penulis skenario telah memanfaatkan efek relativistik lubang hitam, khususnya dilatasi waktu gravitasi. Lubang hitam juga telah digunakan sebagai lubang cacing atau metode lain untuk perjalanan lebih cepat daripada cahaya.[266]

Referensi

sunting
  1. 1 2 The Event Horizon Telescope Collaboration; et al. (10 April 2019). "First M87 Event Horizon Telescope Results. IV. Imaging the Central Supermassive Black Hole". The Astrophysical Journal Letters. 875 (1): L4. arXiv:1906.11241. Bibcode:2019ApJ...875L...4E. doi:10.3847/2041-8213/ab0e85.
  2. "Astronomers capture first image of a black hole". new.nsf.gov (dalam bahasa Inggris). 10 April 2019. Diakses tanggal 28 January 2025.
  3. Riazuelo, Alain (2019). "Seeing relativity—I. Ray tracing in a Schwarzschild metric to explore the maximal analytic extension of the metric and making a proper rendering of the stars". International Journal of Modern Physics D. 28 (2): 1950042. arXiv:1511.06025. Bibcode:2019IJMPD..2850042R. doi:10.1142/S0218271819500421.
  4. Overbye, Dennis (June 8, 2015). "Black Hole Hunters". The New York Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 June 2015. Diakses tanggal 2026-03-28.
  5. 1 2 Montgomery, Colin; Orchiston, Wayne; Whittingham, Ian (2009). "Michell, Laplace and the Origin of the Black Hole Concept". Journal of Astronomical History and Heritage (Research article). 12 (2): 90–96. Bibcode:2009JAHH...12...90M. doi:10.3724/SP.J.1440-2807.2009.02.01.
  6. Michell, J. (1784). "On the Means of Discovering the Distance, Magnitude, &C. Of the Fixed Stars, In Consequence of the Diminution of the Velocity of Their Light, In Case Such a Diminution Should Be Found to Take Place in Any of Them, And Such Other Data Should Be Procured from Observations, As Would Be Farther Necessary for That Purpose". Philosophical Transactions of the Royal Society. 74: 35–57. Bibcode:1784RSPT...74...35M. doi:10.1098/rstl.1784.0008. JSTOR 106576.
  7. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Thorne, Kip S.; Hawking, Stephen (1994). Agrawal, Milan (ed.). Black Holes and Time Warps: Einstein's Outrageous Legacy (Edisi 1st). W. W. Norton & Company. ISBN 978-0-393-31276-8. Diakses tanggal 12 April 2019.
  8. 1 2 Weinberg, Steven (1972). Gravitation and Cosmology. John Wiley & Sons. ISBN 978-0-471-92567-5.
  9. Einstein, Albert (1915). "Die Feldgleichungen der Gravitation" [Field Equations of Gravitation]. Sitzungsberichte der Königlich Preußischen Akademie der Wissenschaften (dalam bahasa Jerman): 844–847. Bibcode:1915SPAW.......844E. hdl:2027/umn.31951d000117420.
  10. Janssen, Michel; Renn, Jürgen (2015). "Arch and Scaffold: How Einstein Found His Field Equations". Physics Today (Feature article). 68 (11): 30–36. Bibcode:2015PhT....68k..30J. doi:10.1063/PT.3.2979. hdl:11858/00-001M-0000-002A-8ED7-1.
  11. Fraknoi, Andrew; Morrison, David; Wolff, Sidney C. (2022). "24.5 Black Holes". Astronomy 2e (PDF) (Edisi 2e). OpenStax. hlm. 839–846. ISBN 978-1-951693-50-3. OCLC 1322188620.
  12. Schwarzschild, K. (1916). "Über das Gravitationsfeld eines Massenpunktes nach der Einsteinschen Theorie" [On the gravitational field of a mass point according to Einstein's theory]. Sitzungsberichte der Königlich Preussischen Akademie der Wissenschaften. 7: 189–196. Bibcode:1916SPAW.......189S via Internet Archive.
  13. Droste, J. (1917). "The Field of a Single Centre in Einstein's Theory of Gravitation, And the Motion of a Particle in That Field" (PDF). Physics. Proceedings of the Section of Sciences. 19 (1). Koninklijke Akademie van Wetenschappen: 197–215. Bibcode:1917KNAB...19..197D. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 18 May 2013. Diakses tanggal 16 September 2012.
  14. Kox, A. J. (1992). "General Relativity in the Netherlands: 1915–1920". Dalam Eisenstaedt, Jean; Kox, A. J. (ed.). Studies in the History of General Relativity. Birkhäuser. hlm. 41. ISBN 978-0-8176-3479-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 August 2016. Diakses tanggal 23 February 2016.
  15. 't Hooft, G. (2009). "Introduction to the Theory of Black Holes" (PDF). Institute for Theoretical Physics / Spinoza Institute. hlm. 47–48. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 21 May 2009. Diakses tanggal 24 June 2010.
  16. Eddington, Arthur (1926). The Internal Constitution of the Stars. Science. Vol. 52. Cambridge University Press. hlm. 233–40. Bibcode:1920Sci....52..233E. doi:10.1126/science.52.1341.233. PMID 17747682. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 August 2016. ISBN 978-0-521-33708-3
  17. 1 2 Bernstein, Jeremy (2007). "The Reluctant Father of Black Holes". Scientific American (dalam bahasa Inggris). Vol. 17. hlm. 4–11. doi:10.1038/scientificamerican0407-4sp. Diakses tanggal 3 August 2023.
  18. Einstein, Albert (10 May 1939). "On a Stationary System With Spherical Symmetry Consisting of Many Gravitating Masses". Annals of Mathematics. 40 (4): 922–936. doi:10.2307/1968902. JSTOR 1968902.
  19. Detweiler, S. (1981). "Resource Letter BH-1: Black Holes". American Journal of Physics (Paper). 49 (5): 394–400. Bibcode:1981AmJPh..49..394D. doi:10.1119/1.12686.
  20. Oppenheimer, J. R.; Volkoff, G. M. (1939). "On Massive Neutron Cores". Physical Review. 55 (4): 374–381. Bibcode:1939PhRv...55..374O. doi:10.1103/PhysRev.55.374.
  21. 1 2 3 4 5 Bartusiak, Marcia (2015). Black Hole: How an Idea Abandoned by Newtonians, Hated by Einstein, And Gambled On by Hawking Became Loved. Yale University Press. ISBN 978-0-300-21363-8.
  22. Oppenheimer, J.R.; Snyder, H. (1939). "On Continued Gravitational Contraction". Physical Review (Highlighted article). 56 (5): 455–459. Bibcode:1939PhRv...56..455O. doi:10.1103/PhysRev.56.455.
  23. Finkelstein, D. (1958). "Past-Future Asymmetry of the Gravitational Field of a Point Particle". Physical Review (Article). 110 (4): 965–967. Bibcode:1958PhRv..110..965F. doi:10.1103/PhysRev.110.965.
  24. French National Centre for Scientific Research (10 April 2019). "First Ever Image of a Black Hole: A CNRS Researcher Had Simulated It as Early as 1979". CNRS. Diakses tanggal 18 June 2025. Reports on paper: Luminet, J.-P. (May 1979). "Image of a Spherical Black Hole with Thin Accretion Disk". Astronomy and Astrophysics. 75: 228–235. Bibcode:1979A&A....75..228L.
  25. Thorne K (2003). "5. Warping spacetime". Dalam Shellard ES, Gibbons GW, Rankin SJ (ed.). The Future of Theoretical Physics and Cosmology: Celebrating Stephen Hawking's 60th Birthday. Cambridge University Press. hlm. 74. ISBN 0-521-82081-2.
  26. Kerr, R. P. (2009). "Discovering the Kerr and Kerr-Schild metrics". Dalam Wiltshire, D. L.; Visser, M.; Scott, S. M. (ed.). The Kerr Spacetime. Cambridge University Press. arXiv:0706.1109. Bibcode:2007arXiv0706.1109K. ISBN 978-0-521-88512-6.
  27. Newman ET, Couch E, et al. (1965). "Metric of a Rotating, Charged Mass". Journal of Mathematical Physics (Research article). 6 (6): 918. Bibcode:1965JMP.....6..918N. doi:10.1063/1.1704351.
  28. Penrose, Roger (1996). "Chandrasekhar, Black Holes, And Singularities". Journal of Astrophysics and Astronomy (Article). 17 (3–4): 213–231. Bibcode:1996JApA...17..213P. doi:10.1007/BF02702305.
  29. Penrose, R. (1965). "Gravitational Collapse and Space-Time Singularities". Physical Review Letters. 14 (3): 57. Bibcode:1965PhRvL..14...57P. doi:10.1103/PhysRevLett.14.57.
  30. Ford, L. H. (2003). "The Classical Singularity Theorems and Their Quantum Loopholes". International Journal of Theoretical Physics. 42 (6): 1219–1227. arXiv:gr-qc/0301045. Bibcode:2003gr.qc.....1045F. doi:10.1023/A:1025754515197.
  31. Boissoneault, Lorraine (28 February 2018). "Fifty Years Ago, A Grad Student's Discovery Changed the Course of Astrophysics". Smithsonian Magazine. Diakses tanggal 22 December 2023. Background and impact of Hewish, A.; Bell, S. J.; et al. (1968). "Observation of a Rapidly Pulsating Radio Source". Nature. 217 (5130): 709–713. Bibcode:1968Natur.217..709H. doi:10.1038/217709a0.
  32. Orosz, Jerome A.; McClintock, Jeffrey E.; et al. (2011). "The Mass of the Black Hole in Cygnus X-1". The Astrophysical Journal. 742 (2): 84. arXiv:1106.3689. Bibcode:2011ApJ...742...84O. doi:10.1088/0004-637x/742/2/84.
  33. 1 2 Carlip, S. (2017). Black hole thermodynamics. Vol. 2. hlm. 415–465. Bibcode:2017ohy2.book..415C. doi:10.1142/9789814678506_0010. ISBN 978-981-4678-49-0. Discusses the history including Bardeen, J. M.; Carter, B.; Hawking, S. W. (1973). "The Four Laws of Black Hole Mechanics". Communications in Mathematical Physics. 31 (2): 161–170. Bibcode:1973CMaPh..31..161B. doi:10.1007/BF01645742. MR 0334798. Zbl 1125.83309. and Hawking, S. W. (1974). "Black Hole Explosions?". Nature. 248 (5443): 30–31. Bibcode:1974Natur.248...30H. doi:10.1038/248030a0.
  34. Rolston, Bruce (10 November 1997). "The First Black Hole". University of Toronto. Diarsipkan dari asli tanggal 7 March 2008. Diakses tanggal 11 March 2008.
  35. "Scientific Background: Theoretical foundation for black holes and the supermassive compact object at the galactic centre" (PDF). NobelPrize.org (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2026-04-12.
  36. Merritt, David (1999). "Black holes and galaxy evolution". Dalam Combes, F.; Mamon, G. A.; Charmandaris, V. (ed.). Dynamics of Galaxies: from the Early Universe to the Present. Vol. 197. Astronomical Society of the Pacific. hlm. 221–232. arXiv:astro-ph/9910546. Bibcode:2000ASPC..197..221M. ISBN 978-1-58381-024-8.
  37. Genzel, R.; Eckart, A.; et al. (1997). "On the Nature of the Dark Mass in the Centre of the Milky Way". Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. 291: 219–234. doi:10.1093/mnras/291.1.219.
  38. 1 2 Ghez, A. M.; Klein, B. L.; et al. (1998). "High Proper-Motion Stars in the Vicinity of Sagittarius A*: Evidence for a Supermassive Black Hole at the Center of Our Galaxy". The Astrophysical Journal. 509 (2): 678–686. arXiv:astro-ph/9807210. Bibcode:1998ApJ...509..678G. doi:10.1086/306528.
  39. 1 2 Abbott, B. P.; et al. (2016). "Observation of Gravitational Waves from a Binary Black Hole Merger". Physical Review Letters. 116 (6) 061102. arXiv:1602.03837. Bibcode:2016PhRvL.116f1102A. doi:10.1103/PhysRevLett.116.061102. PMID 26918975.
  40. Abbott, B. P.; et al. (2016). "Improved Analysis of GW150914 Using a Fully Spin-Precessing Waveform Model". Physical Review X. 6 (4) 041014. arXiv:1606.01210. Bibcode:2016PhRvX...6d1014A. doi:10.1103/PhysRevX.6.041014.
  41. "The Nobel Prize in Physics 2017". Nobel Foundation.
  42. Burtnyk, Kimberly (20 March 2025). "LIGO-Virgo-KAGRA Announce the 200th Gravitational Wave Detection of O4!". LIGO Caltech. Diakses tanggal 22 October 2025.
  43. 1 2 Event Horizon Telescope, The (2019). "First M87 Event Horizon Telescope Results. I. The Shadow of the Supermassive Black Hole". The Astrophysical Journal. 875 (1): L1. arXiv:1906.11238. Bibcode:2019ApJ...875L...1E. doi:10.3847/2041-8213/ab0ec7.
  44. 1 2 "Astronomers Reveal First Image of the Black Hole at the Heart of Our Galaxy". Event Horizon Telescope. 2022-05-12. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2025-09-26. Diakses tanggal 2025-12-02.
  45. Poffenberger, Leah. "2020 Nobel Prize in Physics". American Physical Society. Diakses tanggal 20 October 2025.
  46. "The Nobel Prize in Physics 2020". NobelPrize.org. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 April 2021. Diakses tanggal 8 October 2020.
  47. Overbye, Dennis; Taylor, Derrick Bryson (6 October 2020). "Nobel Prize in Physics Awarded to 3 Scientists for Work on Black Holes". The New York Times. Diakses tanggal 6 October 2020.
  48. "Pioneering Physicist John Wheeler Dies at 96". Scientific American. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 November 2016. Diakses tanggal 27 November 2016.
  49. Overbye, Dennis (14 April 2008). "John A. Wheeler, Physicist Who Coined the Term 'Black Hole,' Is Dead at 96". The New York Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 November 2016. Diakses tanggal 27 November 2016.
  50. Frolov, Valeri P.; Zelnikov, Andrei (1 December 2011). Introduction to Black Hole Physics (Edisi 1st). Oxford University Press. hlm. 1. ISBN 978-0-19-969229-3.
  51. Booth, Ivan (2005). "Black-hole boundaries". Canadian Journal of Physics. 83 (11): 1073–1099. arXiv:gr-qc/0508107. Bibcode:2005CaJPh..83.1073B. doi:10.1139/p05-063.
  52. Curiel, Erik (2019). "The many definitions of a black hole". Nature Astronomy. 3: 27–34. arXiv:1808.01507. Bibcode:2019NatAs...3...27C. doi:10.1038/s41550-018-0602-1.
  53. Susskind, Leonard (2008). The black hole war: my battle with Stephen Hawking to make the world safe for quantum mechanics (Edisi 1st). Little, Brown. ISBN 978-0-316-01640-7. OCLC 181603165.
  54. Hamilton, Andrew J. S.; Lisle, Jason P. (2008). "The river model of black holes". American Journal of Physics. 76 (6): 519–532. arXiv:gr-qc/0411060. Bibcode:2008AmJPh..76..519H. doi:10.1119/1.2830526.
  55. Hamilton, Andrew. "A Black Hole is a Waterfall of Space". Inside Black Holes. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 August 2025. Diakses tanggal 24 October 2025.
  56. Herdeiro, Carlos A. R.; Radu, Eugen (2015). "Asymptotically flat black holes with scalar hair: A review". International Journal of Modern Physics D. 24 (9): 1542014–1542219. arXiv:1504.08209. Bibcode:2015IJMPD..2442014H. doi:10.1142/S0218271815420146.
  57. Chruściel PT, Costa JL, Heusler M (2012). "Stationary Black Holes: Uniqueness and Beyond". Living Reviews in Relativity (Article). 15 (7) 7. arXiv:1205.6112. Bibcode:2012LRR....15....7C. doi:10.12942/lrr-2012-7. PMC 5255892. PMID 28179837.
  58. Barceló, Carlos; Carballo-Rubio, Raúl; Garay, Luis J; García-Moreno, Gerardo (March 31, 2025). "No-hair and almost-no-hair results for static axisymmetric black holes and ultracompact objects in astrophysical environments". Classical and Quantum Gravity. 42 (7): 075020. arXiv:2410.08128. Bibcode:2025CQGra..42g5020B. doi:10.1088/1361-6382/adc233.
  59. Shapiro, S. L.; Teukolsky, S. A. (1983). Black Holes, White Dwarfs, And Neutron Stars: The Physics of Compact Objects. John Wiley and Sons. hlm. 357. ISBN 978-0-471-87316-7.
  60. Seeds, Michael A.; Backman, Dana E. (2007). Perspectives on Astronomy. Cengage Learning. hlm. 167. ISBN 978-0-495-11352-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 August 2016.
  61. Wald, R. M. (1997). "Gravitational Collapse and Cosmic Censorship". Dalam Iyer, B. R.; Bhawal, B. (ed.). Black Holes, Gravitational Radiation and the Universe. Springer. hlm. 69–86. arXiv:gr-qc/9710068. doi:10.1007/978-94-017-0934-7. ISBN 978-94-017-0934-7.
  62. Berger, B. K. (2002). "Numerical Approaches to Spacetime Singularities". Living Reviews in Relativity. 5 (1) 1: 2002–1. arXiv:gr-qc/0201056. Bibcode:2002LRR.....5....1B. doi:10.12942/lrr-2002-1. PMC 5256073. PMID 28179859.
  63. Joshi, Pankaj S. (1 February 2009). "Naked Singularities". Scientific American. Vol. 300, no. 2. hlm. 36–43. JSTOR 26001219.
  64. 1 2 3 Peterson, Bradley M. (2014). "Measuring the Masses of Supermassive Black Holes". Space Science Reviews. 183 (1–4): 253–275. Bibcode:2014SSRv..183..253P. doi:10.1007/s11214-013-9987-4.
  65. "Black Hole Basics". NASA.gov. 13 March 2024. Diakses tanggal 25 October 2025.
  66. Daly, Ruth A. (2019). "Black Hole Spin and Accretion Disk Magnetic Field Strength Estimates for More Than 750 Active Galactic Nuclei and Multiple Galactic Black Holes". The Astrophysical Journal. 886 (1): 37. arXiv:1905.11319. Bibcode:2019ApJ...886...37D. doi:10.3847/1538-4357/ab35e6.
  67. 1 2 3 Reynolds, Christopher S. (2019). "Observing black holes spin". Nature Astronomy. 3: 41–47. arXiv:1903.11704. Bibcode:2019NatAs...3...41R. doi:10.1038/s41550-018-0665-z.
  68. 1 2 3 Zee, A. (2013). Einstein gravity in a nutshell. Princeton: Princeton University Press. ISBN 978-0-691-14558-7.
  69. Tamburini, Fabrizio; Thidé, Bo; Della Valle, Massimo (2020). "Measurement of the Spin of the M87 Black Hole from Its Observed Twisted Light". Monthly Notices of the Royal Astronomical Society: Letters. 492: L22 – L27. arXiv:1904.07923. doi:10.1093/mnrasl/slz176.
  70. 1 2 Zajaček, Michal; Tursunov, Arman; et al. (2018). "On the Charge of the Galactic Centre Black Hole". Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. 480 (4): 4408–4423. arXiv:1808.07327. doi:10.1093/mnras/sty2182.
  71. Gong, Yi; Cao, Zhoujian; et al. (2019). "On Neutralization of Charged Black Holes". Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. 488 (2): 2722–2731. arXiv:1907.05239. doi:10.1093/mnras/stz1904. We find a universal dependence of the falling probability into the black hole on the charge of the test particle, with the oppositely charged particles having a higher probability of falling.
  72. Zakharov, A. F.; De Paolis, F.; et al. (2005). "Direct Measurements of Black Hole Charge with Future Astrometrical Missions". Astronomy & Astrophysics. 442 (3): 795–799. arXiv:astro-ph/0505286. Bibcode:2005A&A...442..795Z. doi:10.1051/0004-6361:20053432.
  73. Turimov, Bobur; Boboqambarova, Madina; et al. (2022). "Distinguishable Feature of Electric and Magnetic Charged Black Hole". The European Physical Journal Plus. 137 (2) 222. doi:10.1140/epjp/s13360-022-02390-7.
  74. 1 2 Coleman Miller, M.; Colbert, E. J. M. (2004). "Intermediate-Mass Black Holes". International Journal of Modern Physics D. 13 (1): 1–64. arXiv:astro-ph/0308402. Bibcode:2004IJMPD..13....1M. doi:10.1142/S0218271804004426.
  75. Carr, Bernard; Kohri, Kazunori; et al. (2021). "Constraints on Primordial Black Holes". Reports on Progress in Physics. 84 (11). arXiv:2002.12778. Bibcode:2021RPPh...84k6902C. doi:10.1088/1361-6633/ac1e31. PMID 34874316.
  76. Nakama, Tomohiro; Yokoyama, Jun'Ichi (2019). "Micro Black Holes Formed in the Early Universe and Their Cosmological Implications". Physical Review D. 99 (6) 061303. arXiv:1811.05049. Bibcode:2019PhRvD..99f1303N. doi:10.1103/PhysRevD.99.061303.
  77. Scardigli, Fabio (2000). "Gravity Coupling from Micro-Black Holes". Nuclear Physics B: Proceedings Supplements. 88 (1–3): 291–294. arXiv:hep-th/9907150. Bibcode:2000NuPhS..88..291S. doi:10.1016/S0920-5632(00)00788-X.
  78. 1 2 Vink, Jorick S.; Higgins, Erin R.; et al. (2021). "Maximum Black Hole Mass Across Cosmic Time". Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. 504: 146–154. arXiv:2010.11730. doi:10.1093/mnras/stab842.
  79. 1 2 3 Dunn, R. J. H.; Fender, R. P.; et al. (2010). "A Global Spectral Study of Black Hole X-Ray Binaries". Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. 403 (1): 61–82. arXiv:0912.0142. Bibcode:2010MNRAS.403...61D. doi:10.1111/j.1365-2966.2010.16114.x.
  80. Shao, Yong; Li, Xiang-Dong (2020). "Population Synthesis of Black Hole X-Ray Binaries". The Astrophysical Journal. 898 (2): 143. arXiv:2006.15961. Bibcode:2020ApJ...898..143S. doi:10.3847/1538-4357/aba118.
  81. Ruiz-Rocha, Krystal; Yelikar, Anjali B.; et al. (2025). "Properties of "Lite" Intermediate-Mass Black Hole Candidates in LIGO-Virgo's Third Observing Run". The Astrophysical Journal Letters. 985 (2): L37. arXiv:2502.17681. Bibcode:2025ApJ...985L..37R. doi:10.3847/2041-8213/adc5f8.
  82. Mezcua, Mar (2021). "Black Holes". Encyclopedia of Astrobiology. hlm. 1–8. arXiv:2110.08629. doi:10.1007/978-3-642-27833-4_5510-1. ISBN 978-3-642-27833-4.
  83. 1 2 3 Cattaneo, A.; Faber, S. M.; et al. (2009). "The Role of Black Holes in Galaxy Formation and Evolution". Nature. 460 (7252): 213–219. arXiv:0907.1608. Bibcode:2009Natur.460..213C. doi:10.1038/nature08135. PMID 19587763.
  84. Natarajan, Priyamvada; Treister, Ezequiel (2009). "Is There an Upper Limit to Black Hole Masses?". Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. 393 (3): 838–845. arXiv:0808.2813. Bibcode:2009MNRAS.393..838N. doi:10.1111/j.1365-2966.2008.13864.x.
  85. Dullo, Bililign T.; Gil De Paz, Armando; Knapen, Johan H. (2021). "Ultramassive Black Holes in the Most Massive Galaxies: M BH–σ Versus M BH–R b". The Astrophysical Journal. 908 (2): 134. arXiv:2012.04471. Bibcode:2021ApJ...908..134D. doi:10.3847/1538-4357/abceae.
  86. King, Andrew (February 2016). "How big can a black hole grow?". Monthly Notices of the Royal Astronomical Society: Letters. 456 (1): L109 – L112. arXiv:1511.08502. Bibcode:2016MNRAS.456L.109K. doi:10.1093/mnrasl/slv186.
  87. Clery, Daniel (21 December 2015). "Limit to how big black holes can grow is astonishing". Science. doi:10.1126/science.aae0149.
  88. 1 2 Reynolds, Christopher S. (2021). "Observational Constraints on Black Hole Spin". Annual Review of Astronomy and Astrophysics. 59: 117–154. arXiv:2011.08948. Bibcode:2021ARA&A..59..117R. doi:10.1146/annurev-astro-112420-035022.
  89. 1 2 Mirabel, I. F.; Rodríguez, L. F. (1999). "Sources of Relativistic Jets in the Galaxy". Annual Review of Astronomy and Astrophysics. 37: 409–443. arXiv:astro-ph/9902062. Bibcode:1999ARA&A..37..409M. doi:10.1146/annurev.astro.37.1.409.
  90. "Relativistic Jets". NuSTAR. Diakses tanggal 2025-11-09.
  91. Bagchi, Joydeep; Vivek, M.; et al. (2014). "Megaparsec Relativistic Jets Launched from an Accreting Supermassive Black Hole in an Extreme Spiral Galaxy". The Astrophysical Journal. 788 (2): 174. arXiv:1404.6889. Bibcode:2014ApJ...788..174B. doi:10.1088/0004-637X/788/2/174.
  92. 1 2 Nemmen, R. S.; Georganopoulos, M.; et al. (2012). "A Universal Scaling for the Energetics of Relativistic Jets from Black Hole Systems". Science. 338 (6113): 1445–1448. arXiv:1212.3343. Bibcode:2012Sci...338.1445N. doi:10.1126/science.1227416. PMID 23239730.
  93. 1 2 3 Blandford, Roger; Meier, David; Readhead, Anthony (2019). "Relativistic Jets from Active Galactic Nuclei". Annual Review of Astronomy and Astrophysics. 57: 467–509. arXiv:1812.06025. Bibcode:2019ARA&A..57..467B. doi:10.1146/annurev-astro-081817-051948.
  94. Chen 陈, Yongyun 永云; Gu 顾, Qiusheng 秋生; et al. (2021). "The Powers of Relativistic Jets Depend on the Spin of Accreting Supermassive Black Holes". The Astrophysical Journal. 913 (2): 93. arXiv:2104.04242. Bibcode:2021ApJ...913...93C. doi:10.3847/1538-4357/abf4ff.
  95. Ghisellini, G.; Haardt, F.; et al. (2013). "The Role of Relativistic Jets in the Heaviest and Most Active Supermassive Black Holes at High Redshift". Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. 432 (4): 2818–2823. doi:10.1093/mnras/stt637.
  96. Ghisellini, G.; Tavecchio, F.; et al. (2014). "The Power of Relativistic Jets Is Larger Than the Luminosity of Their Accretion Disks". Nature. 515 (7527): 376–378. arXiv:1411.5368. Bibcode:2014Natur.515..376G. doi:10.1038/nature13856. PMID 25409827.
  97. Mirabel, I. F.; Rodríguez, L. F. (1998). "Microquasars in our Galaxy". Nature. 392 (6677): 673–676. Bibcode:1998Natur.392..673M. doi:10.1038/33603.
  98. Penrose, R. (1969). "Gravitational Collapse: The Role of General Relativity". Rivista del Nuovo Cimento. 1: 252–276. Bibcode:1969NCimR...1..252P.
  99. Narayan, Ramesh; McClintock, Jeffrey E.; Tchekhovskoy, Alexander (2014). "Energy Extraction from Spinning Black Holes Via Relativistic Jets". General Relativity, Cosmology and Astrophysics. hlm. 523–535. arXiv:1303.3004. doi:10.1007/978-3-319-06349-2_25. ISBN 978-3-319-06348-5.
  100. "Black Hole Anatomy". NASA Science. 2 August 2022. Diarsipkan dari asli tanggal 24 April 2025. Diakses tanggal 13 October 2025.
  101. Cunha, Pedro V.P.; Eiró, Nelson A.; Herdeiro, Carlos A.R.; Lemos, José P.S. (2020). "Lensing and shadow of a black hole surrounded by a heavy accretion disk". Journal of Cosmology and Astroparticle Physics (3): 035. arXiv:1912.08833. Bibcode:2020JCAP...03..035C. doi:10.1088/1475-7516/2020/03/035.
  102. Astrophysics. Undergraduate Lecture Notes in Physics. 2024. doi:10.1007/978-3-031-22135-4. ISBN 978-3-031-22133-0.
  103. 1 2 High-Energy Astrophysics. Undergraduate Lecture Notes in Physics. 2022. doi:10.1007/978-3-030-92159-0. ISBN 978-3-030-92158-3.
  104. Lasota, Jean-Pierre (2016). "Black Hole Accretion Discs". Astrophysics of Black Holes. Astrophysics and Space Science Library. Vol. 440. hlm. 1–60. arXiv:1505.02172. doi:10.1007/978-3-662-52859-4_1. ISBN 978-3-662-52857-0.
  105. Beloborodov, A. M. (1998). "Super-Eddington Accretion Discs Around Kerr Black Holes". Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. 297 (3): 739–746. arXiv:astro-ph/9802129. Bibcode:1998MNRAS.297..739B. doi:10.1046/j.1365-8711.1998.01530.x.
  106. Wang, Zi-Liang (2025). "Exploring the Role of Accretion Disk Geometry in Shaping Black Hole Shadows". Physical Review D. 112 (6) 064052. arXiv:2506.21148. Bibcode:2025PhRvD.112f4052W. doi:10.1103/fhqj-wgcm.
  107. Gimeno-Soler, Sergio; Font, José A. (2017). "Magnetised Polish Doughnuts Revisited". Astronomy & Astrophysics. 607: A68. arXiv:1707.03867. Bibcode:2017A&A...607A..68G. doi:10.1051/0004-6361/201730935.
  108. Abramowicz, M.A. (2005). "Super-Eddington Black Hole Accretion". Growing Black Holes: Accretion in a Cosmological Context. ESO Astrophysics Symposia. hlm. 257–273. doi:10.1007/11403913_49. ISBN 978-3-540-25275-7.
  109. Kishimoto, Makoto; Antonucci, Robert; et al. (2008). "The Characteristic Blue Spectra of Accretion Disks in Quasars as Uncovered in the Infrared". Nature. 454 (7203): 492–494. arXiv:0807.3703. Bibcode:2008Natur.454..492K. doi:10.1038/nature07114. PMID 18650919.
  110. Fukue, Jun; Yokoyama, Takushi (1988). "Color Photographs of an Accretion Disk Around a Black Hole". Publications of the Astronomical Society of Japan. 40: 15–24. doi:10.1093/pasj/40.1.15.
  111. 1 2 3 James, Oliver; Tunzelmann, Eugénie von; et al. (2015). "Gravitational Lensing by Spinning Black Holes in Astrophysics, And in the Movie Interstellar". Classical and Quantum Gravity. 32 (6). arXiv:1502.03808. Bibcode:2015CQGra..32f5001J. doi:10.1088/0264-9381/32/6/065001.
  112. Guo, Sen; Huang, Yu-Xiang; et al. (2023). "Unveiling the Unconventional Optical Signatures of Regular Black Holes Within Accretion Disk". The European Physical Journal C. 83 (11) 1059. arXiv:2310.20523. Bibcode:2023EPJC...83.1059G. doi:10.1140/epjc/s10052-023-12208-0.
  113. McClintock, Jeffrey E.; Narayan, Ramesh; et al. (2011). "Measuring the Spins of Accreting Black Holes". Classical and Quantum Gravity. 28 (11). arXiv:1101.0811. Bibcode:2011CQGra..28k4009M. doi:10.1088/0264-9381/28/11/114009.
  114. 1 2 Misner, Charles; Thorne, Kip S.; Wheeler, John (1973). Gravitation. W. H. Freeman and Company. ISBN 978-0-7167-0344-0.
  115. 1 2 Bardeen, James M.; Press, William H.; Teukolsky, Saul A. (1 December 1972). "Rotating Black Holes: Locally Nonrotating Frames, Energy Extraction, And Scalar Synchrotron Radiation". The Astrophysical Journal. 178: 347–370. Bibcode:1972ApJ...178..347B. doi:10.1086/151796.
  116. Jefremov, Paul I.; Tsupko, Oleg Yu.; Bisnovatyi-Kogan, Gennady S. (2015). "Innermost Stable Circular Orbits of Spinning Test Particles in Schwarzschild and Kerr Space-Times". Physical Review D. 91 (12) 124030. arXiv:1503.07060. Bibcode:2015PhRvD..91l4030J. doi:10.1103/PhysRevD.91.124030.
  117. Zhang, Yu-Peng; Wei, Shao-Wen; et al. (2018). "Innermost Stable Circular Orbit of Spinning Particle in Charged Spinning Black Hole Background". Physical Review D. 97 (8) 084056. arXiv:1711.09361. Bibcode:2018PhRvD..97h4056Z. doi:10.1103/PhysRevD.97.084056.
  118. Vázquez, S.E.; Esteban, E.P. (2004). "Strong-field gravitational lensing by a Kerr black hole". Il Nuovo Cimento B. 119 (5): 489. arXiv:gr-qc/0308023. Bibcode:2004NCimB.119..489V. doi:10.1393/ncb/i2004-10121-y.
  119. Lü, H.; Lyu, Hong-Da (2020). "Schwarzschild Black Holes Have the Largest Size". Physical Review D. 101 (4) 044059. arXiv:1911.02019. Bibcode:2020PhRvD.101d4059L. doi:10.1103/PhysRevD.101.044059.
  120. Qiao, Chen-Kai (2022). "Curvatures, Photon Spheres, And Black Hole Shadows". Physical Review D. 106 (8) 084060. arXiv:2208.01771. Bibcode:2022PhRvD.106h4060Q. doi:10.1103/PhysRevD.106.084060.
  121. 1 2 Nitta, Daisuke; Chiba, Takeshi; Sugiyama, Naoshi (September 2011). "Shadows of Colliding Black Holes". Physical Review D. 84 (6) 063008. arXiv:1106.2425. Bibcode:2011PhRvD..84f3008N. doi:10.1103/PhysRevD.84.063008.
  122. Cramer, Claes R. (1997). "Using the Uncharged Kerr Black Hole as a Gravitational Mirror". General Relativity and Gravitation. 29 (4): 445–454. arXiv:gr-qc/9510053. Bibcode:1997GReGr..29..445C. doi:10.1023/A:1018878515046.
  123. Teo, Edward (2003). "Spherical Photon Orbits Around a Kerr Black Hole". General Relativity and Gravitation. 35 (11): 1909–1926. Bibcode:2003GReGr..35.1909T. doi:10.1023/A:1026286607562.
  124. Heydarzade, Yaghoub; Vertogradov, Vitalii (2024). "Dynamical Photon Spheres in Charged Black Holes and Naked Singularities". The European Physical Journal C. 84 (6) 582. arXiv:2311.08930. Bibcode:2024EPJC...84..582H. doi:10.1140/epjc/s10052-024-12945-w.
  125. Chen, Ying-Xuan; Huang, Jia-Hui; Jiang, Haoxiang (2023). "Radii of Spherical Photon Orbits Around Kerr-Newman Black Holes". Physical Review D. 107 (4) 044066. arXiv:2210.08509. Bibcode:2023PhRvD.107d4066C. doi:10.1103/PhysRevD.107.044066.
  126. Perlick, Volker; Tsupko, Oleg Yu. (February 2022). "Calculating black hole shadows: Review of analytical studies". Physics Reports. 947: 1–39. arXiv:2105.07101. Bibcode:2022PhR...947....1P. doi:10.1016/j.physrep.2021.10.004.
  127. 1 2 3 Visser, Matt (2007). "The Kerr spacetime: A brief introduction". arΧiv:0706.0622 [gr-qc].
  128. Carroll, Sean M. (2019). Spacetime and Geometry. doi:10.1017/9781108770385. ISBN 978-1-108-48839-6.
  129. Mummery, Andrew; Ingram, Adam; et al. (June 2024). "Continuum Emission from Within the Plunging Region of Black Hole Discs". Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. 531 (1): 366–386. arXiv:2405.09175. doi:10.1093/mnras/stae1160.
  130. Machida, Mami; Matsumoto, Ryoji (2003). "Global Three-Dimensional Magnetohydrodynamic Simulations of Black Hole Accretion Disks: X-Ray Flares in the Plunging Region". The Astrophysical Journal. 585 (1): 429–442. arXiv:astro-ph/0211240. Bibcode:2003ApJ...585..429M. doi:10.1086/346070.
  131. Prisco, Jacopo (17 May 2024). "Study Proves Black Holes Have a 'Plunging Region,' Just as Einstein Predicted". CNN.
  132. Wald, Robert M. (1984). General Relativity. University of Chicago Press. ISBN 978-0-226-87033-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 August 2016. Diakses tanggal 23 February 2016.
  133. 1 2 3 4 5 6 Celotti, A.; Miller, J. C.; Sciama, D. W. (1999). "Astrophysical evidence for the existence of black holes". Classical and Quantum Gravity. 16 (12A): A3 – A21. arXiv:astro-ph/9912186. Bibcode:1999CQGra..16A...3C. doi:10.1088/0264-9381/16/12A/301.
  134. Davies, Paul (1992). The New Physics (Edisi illustrated). Cambridge University Press. hlm. 26. ISBN 978-0-521-43831-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 August 2021. Diakses tanggal 25 September 2020. Extract of page 26 Diarsipkan 15 August 2021 di Wayback Machine.
  135. Fleisch, Daniel; Kregenow, Julia (2013). A Student's Guide to the Mathematics of Astronomy (Edisi illustrated). Cambridge University Press. hlm. 168. ISBN 978-1-107-03494-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 August 2021. Diakses tanggal 25 September 2020. Extract of page 168 Diarsipkan 17 August 2021 di Wayback Machine.
  136. 1 2 Wheeler, J. Craig (2007). Cosmic Catastrophes (Edisi 2nd). Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-85714-7.
  137. Visser, Matt (2009). "The Kerr spacetime – a brief introduction". Dalam Wiltshire, David L.; Visser, Matt; Scott, Susan (ed.). The Kerr Spacetime: Rotating Black Holes in General Relativity. Cambridge University Press. hlm. 3–37. ISBN 978-0-521-88512-6.
  138. Delgado, Jorge F. M.; Herdeiro, Carlos A. R.; Radu, Eugen (2018). "Horizon geometry for Kerr black holes with synchronized hair". Physical Review D. 97 (12) 124012. Bibcode:2018PhRvD..97l4012D. doi:10.1103/PhysRevD.97.124012.
  139. 1 2 3 4 5 6 7 8 Carroll, Sean M. (2003). Spacetime and Geometry: An Introduction to General Relativity. Addison-Wesley. ISBN 978-0-8053-8732-2., the lecture notes on which the book was based are available for free from Sean Carroll's website Diarsipkan 23 March 2017 di Wayback Machine.
  140. 1 2 Thorne, Kip (7 November 2014). The Science of Interstellar. W. W. Norton & Company. ISBN 978-0-393-35137-8.
  141. "Inside a Black Hole". Knowing the universe and its secrets. Diarsipkan dari asli tanggal 23 April 2009. Diakses tanggal 26 March 2009.
  142. "What Happens to You If You Fall into a Black Hole". math.ucr.edu. John Baez. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 February 2019. Diakses tanggal 11 March 2018.
  143. Susskind, Leonard (1997-04-01). "Black Holes and the Information Paradox". Scientific American. No. April 1997. hlm. 52–57. JSTOR 24993702.
  144. Hamilton, A. "Journey into a Schwarzschild black hole". jila.colorado.edu. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 September 2019. Diakses tanggal 28 June 2020.
  145. 1 2 3 Poisson, Eric; Israel, Werner (1990). "Internal Structure of Black Holes". Physical Review D. 41 (6): 1796–1809. Bibcode:1990PhRvD..41.1796P. doi:10.1103/PhysRevD.41.1796. PMID 10012548.
  146. 1 2 3 4 5 Scheel, M. A.; Thorne, K. S. (2014). "Geometrodynamics: The Nonlinear Dynamics of Curved Spacetime". Physics-Uspekhi. 57 (4): 342–351. arXiv:1706.09078. Bibcode:2014PhyU...57..342S. doi:10.3367/UFNe.0184.201404b.0367.
  147. 1 2 3 Marolf, Donald; Ori, Amos (2012). "Outgoing Gravitational Shock Wave at the Inner Horizon: The Late-Time Limit of Black Hole Interiors". Physical Review D. 86 (12) 124026. arXiv:1109.5139. Bibcode:2012PhRvD..86l4026M. doi:10.1103/PhysRevD.86.124026.
  148. 1 2 Ori, Amos (1991). "Inner Structure of a Charged Black Hole: An Exact Mass-Inflation Solution". Physical Review Letters. 67 (7): 789–792. Bibcode:1991PhRvL..67..789O. doi:10.1103/PhysRevLett.67.789. PMID 10044989.
  149. Burko, Lior M. (1997). "Structure of the Black Hole's Cauchy-Horizon Singularity". Physical Review Letters. 79 (25): 4958–4961. arXiv:gr-qc/9710112. Bibcode:1997PhRvL..79.4958B. doi:10.1103/PhysRevLett.79.4958.
  150. Burko, Lior M.; Khanna, Gaurav; Zenginoǧlu, Anıl (2016). "Cauchy-Horizon Singularity Inside Perturbed Kerr Black Holes". Physical Review D. 93 (4) 041501. arXiv:1601.05120. Bibcode:2016PhRvD..93d1501B. doi:10.1103/PhysRevD.93.041501.
  151. Hamilton, Andrew J. S. (2017). "Mass Inflation Followed by Belinskii-Khalatnikov-Lifshitz Collapse Inside Accreting, Rotating Black Holes". Physical Review D. 96 (8) 084041. arXiv:1703.01921. Bibcode:2017PhRvD..96h4041H. doi:10.1103/PhysRevD.96.084041.
  152. Barceló, Carlos; Boyanov, Valentin; et al. (2022). "Classical Mass Inflation Versus Semiclassical Inner Horizon Inflation". Physical Review D. 106 (12) 124006. arXiv:2203.13539. Bibcode:2022PhRvD.106l4006B. doi:10.1103/PhysRevD.106.124006.
  153. Hawking, S. W.; Penrose, R. (1970). "The Singularities of Gravitational Collapse and Cosmology". Proceedings of the Royal Society of London. A. Mathematical and Physical Sciences. 314 (1519): 529–548. Bibcode:1970RSPSA.314..529H. doi:10.1098/rspa.1970.0021.
  154. "Sizes of Black Holes? How Big Is a Black Hole?". Sky & Telescope. 22 July 2014. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 April 2019. Diakses tanggal 9 October 2018.
  155. Garfinkle, David (2007). "Of Singularities And Breadmaking". Einstein Online. Diakses tanggal 2026-04-28.
  156. Lewis, Geraint F.; Kwan, Juliana (2007). "No Way Back: Maximizing Survival Time Below the Schwarzschild Event Horizon". Publications of the Astronomical Society of Australia. 24 (2): 46–52. arXiv:0705.1029. Bibcode:2007PASA...24...46L. doi:10.1071/AS07012.
  157. Toporensky, Alexei; Popov, Sergei (2023). "How to Delay Death and Look Further into the Future if You Fall into a Black Hole". Resonance. 28 (5): 737–749. doi:10.1007/s12045-023-1602-8.
  158. Belinskii, V.A.; Lifshitz, E.M.; Khalatnikov, I.M.; Agyei, A.K. (1992). "The oscillatory mode of approach to a singularity in homogeneous cosmological models with rotating axes". Perspectives in Theoretical Physics. hlm. 677–689. doi:10.1016/B978-0-08-036364-6.50048-X. ISBN 978-0-08-036364-6.
  159. Lan, Chen; Yang, Hao; et al. (2023). "Regular Black Holes: A Short Topic Review". International Journal of Theoretical Physics. 62 (9) 202. arXiv:2303.11696. Bibcode:2023IJTP...62..202L. doi:10.1007/s10773-023-05454-1.
  160. Olmo, Gonzalo; Rubiera-Garcia, Diego (2015). "Nonsingular Black Holes in ƒ (R) Theories". Universe. 1 (2): 173–185. arXiv:1509.02430. Bibcode:2015Univ....1..173O. doi:10.3390/universe1020173.
  161. Mathur, Samir D. (2005). "The Fuzzball Proposal for Black Holes: An Elementary Review". Fortschritte der Physik. 53 (7–8): 793. arXiv:hep-th/0502050. Bibcode:2005ForPh..53..793M. doi:10.1002/prop.200410203.
  162. Avery, Steven G.; Chowdhury, Borun D.; Puhm, Andrea (2013). "Unitarity and Fuzzball Complementarity: "Alice Fuzzes but May Not Even Know It!"". Journal of High Energy Physics (9) 12. arXiv:1210.6996. Bibcode:2013JHEP...09..012A. doi:10.1007/JHEP09(2013)012.
  163. Bojowald, Martin (2020). "Black-Hole Models in Loop Quantum Gravity". Universe. 6 (8): 125. arXiv:2009.13565. Bibcode:2020Univ....6..125B. doi:10.3390/universe6080125.
  164. Woosley, S. E.; Heger, A.; Weaver, T. A. (2002). "The evolution and explosion of massive stars". Reviews of Modern Physics. 74 (4): 1015–1071. Bibcode:2002RvMP...74.1015W. doi:10.1103/RevModPhys.74.1015.
  165. Zappa, Francesco; Bernuzzi, Sebastiano; Pannarale, Francesco; Mapelli, Michela; Giacobbo, Nicola (2019). "Black-Hole Remnants from Black-Hole–Neutron-Star Mergers". Physical Review Letters. 123 (4) 041102. arXiv:1903.11622. Bibcode:2019PhRvL.123d1102Z. doi:10.1103/PhysRevLett.123.041102. PMID 31491270.
  166. Inayoshi, Kohei; Visbal, Eli; Haiman, Zoltán (2020). "The Assembly of the First Massive Black Holes". Annual Review of Astronomy and Astrophysics. 58: 27–97. arXiv:1911.05791. Bibcode:2020ARA&A..58...27I. doi:10.1146/annurev-astro-120419-014455.
  167. Janka, H.; Langanke, K.; et al. (2007). "Theory of Core-Collapse Supernovae". Physics Reports. 442 (1–6): 38–74. arXiv:astro-ph/0612072. Bibcode:2007PhR...442...38J. doi:10.1016/j.physrep.2007.02.002.
  168. Bennett, Jeffrey (2025). "Degeneracy Pressure in Stars and Stellar Corpses". The Physics Teacher. 63 (3): 212–213. Bibcode:2025PhTea..63c.212B. doi:10.1119/5.0260882.
  169. Penrose, R. (2002). ""Golden Oldie": Gravitational Collapse: The Role of General Relativity". General Relativity and Gravitation. 34 (7): 1141–1165. Bibcode:2002GReGr..34.1141P. doi:10.1023/A:1016578408204.
  170. Bañados, Eduardo; Venemans, Bram P.; et al. (2018). "An 800-million-solar-mass black hole in a significantly neutral Universe at a redshift of 7.5". Nature. 553 (7689): 473–476. arXiv:1712.01860. Bibcode:2018Natur.553..473B. doi:10.1038/nature25180. PMID 29211709.
  171. Boylan-Kolchin, Michael; Weisz, Daniel R. (2021). "Uncertain Times: The Redshift–Time Relation from Cosmology and Stars". Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. 505 (2): 2764–2783. doi:10.1093/mnras/stab1521.
  172. Klessen, Ralf S.; Glover, Simon C.O. (2023). "The First Stars: Formation, Properties, and Impact". Annual Review of Astronomy and Astrophysics. 61: 65–130. arXiv:2303.12500. Bibcode:2023ARA&A..61...65K. doi:10.1146/annurev-astro-071221-053453.
  173. Fryer, Chris L.; Kalogera, Vassiliki (2001). "Theoretical Black Hole Mass Distributions". The Astrophysical Journal. 554 (1): 548–560. arXiv:astro-ph/9911312. Bibcode:2001ApJ...554..548F. doi:10.1086/321359.
  174. Balzer, Ashley (2024-05-07). "Primordial Black Holes". NASA SVS. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2025-08-27. Diakses tanggal 2025-11-23.
  175. Sasaki, Misao; Suyama, Teruaki; Tanaka, Takahiro; Yokoyama, Shuichiro (2018). "Primordial black holes—perspectives in gravitational wave astronomy". Classical and Quantum Gravity. 35 (6). arXiv:1801.05235. Bibcode:2018CQGra..35f3001S. doi:10.1088/1361-6382/aaa7b4.
  176. Park, Seong Chan (July 2012). "Black holes and the LHC: A review". Progress in Particle and Nuclear Physics. 67 (3): 617–650. arXiv:1203.4683. Bibcode:2012PrPNP..67..617P. doi:10.1016/j.ppnp.2012.03.004.
  177. Ellis, John; Giudice, Gian; Mangano, Michelangelo; Tkachev, Igor; Wiedemann, Urs; LHC Safety Assessment Group (2008). "Review of the safety of LHC collisions". Journal of Physics G: Nuclear and Particle Physics. 35 (11). arXiv:0806.3414. Bibcode:2008JPhG...35k5004E. doi:10.1088/0954-3899/35/11/115004.
  178. Peskin, M. E. (2008). "The End of the World at the Large Hadron Collider?". Physics. 1 14. Bibcode:2008PhyOJ...1...14P. doi:10.1103/Physics.1.14.
  179. Rees, M. J.; Volonteri, M. (2007). "Massive Black Holes: Formation and Evolution". Dalam Karas, V.; Matt, G. (ed.). Black Holes from Stars to Galaxies—Across the Range of Masses. Proceedings of the International Astronomical Union. hlm. 51–58. arXiv:astro-ph/0701512. Bibcode:2007IAUS..238...51R. doi:10.1017/S1743921307004681. ISBN 978-0-521-86347-6.
  180. Zwart, S. F. P.; Baumgardt, H.; et al. (2004). "Formation of Massive Black Holes Through Runaway Collisions in Dense Young Star Clusters". Nature. 428 (6984): 724–726. arXiv:astro-ph/0402622. Bibcode:2004Natur.428..724P. doi:10.1038/nature02448. PMID 15085124.
  181. O'Leary, R. M.; Rasio, F. A.; et al. (2006). "Binary Mergers and Growth of Black Holes in Dense Star Clusters". The Astrophysical Journal. 637 (2): 937–951. arXiv:astro-ph/0508224. Bibcode:2006ApJ...637..937O. doi:10.1086/498446.
  182. Ryu, Taeho; Perna, Rosalba; et al. (2018). "Interactions Between Multiple Supermassive Black Holes in Galactic Nuclei: A Solution to the Final Parsec Problem". Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. 473 (3): 3410–3433. doi:10.1093/mnras/stx2524.
  183. Vasiliev, Eugene; Antonini, Fabio; Merritt, David (2014). "The Final-Parsec Problem in Nonspherical Galaxies Revisited". The Astrophysical Journal. 785 (2): 163. arXiv:1311.1167. Bibcode:2014ApJ...785..163V. doi:10.1088/0004-637X/785/2/163.
  184. McClintock, J. E.; Remillard, R. A. (2006). "Black Hole Binaries". Dalam Lewin, W.; van der Klis, M. (ed.). Compact Stellar X-Ray Sources. hlm. 157. arXiv:astro-ph/0306213. Bibcode:2006csxs.book..157M. ISBN 978-0-521-82659-4. section 4.1.5.
  185. Kuroda, Takami; Shibata, Masaru (2024). "Numerical Relativity Simulations of Black Hole and Relativistic Jet Formation". Monthly Notices of the Royal Astronomical Society: Letters. 533: L107 – L112. doi:10.1093/mnrasl/slae069.
  186. Saikia, D. J. (2022). "Jets in Radio Galaxies and Quasars: An Observational Perspective". Journal of Astrophysics and Astronomy. 43 (2) 97. arXiv:2206.05803. Bibcode:2022JApA...43...97S. doi:10.1007/s12036-022-09863-2.
  187. Czerny, Bożena; Cao, Shulei; et al. (2023). "Accretion Disks, Quasars and Cosmology: Meandering Towards Understanding". Astrophysics and Space Science. 368 (2) 8. arXiv:2209.06563. Bibcode:2023Ap&SS.368....8C. doi:10.1007/s10509-023-04165-7.
  188. Winter, L. M.; Mushotzky, R. F.; et al. (2006). "XMM-Newton Archival Study of the Ultraluminous X-Ray Population in Nearby Galaxies". The Astrophysical Journal. 649 (2): 730–752. arXiv:astro-ph/0512480. Bibcode:2006ApJ...649..730W. doi:10.1086/506579.
  189. Brightman, M.; Bachetti, M.; et al. (2019). "Breaking the Limit: Super-Eddington Accretion Onto Black Holes and Neutron Stars". Bulletin of the American Astronomical Society. 51 (3): 352. arXiv:1903.06844. Bibcode:2019BAAS...51c.352B.
  190. 1 2 Regan, John A.; Downes, Turlough P.; et al. (2019). "Super-Eddington Accretion and Feedback from the First Massive Seed Black Holes". Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. 486 (3): 3892–3906. doi:10.1093/mnras/stz1045.
  191. Evans, Charles R.; Kochanek, Christopher S. (1989). "The Tidal Disruption of a Star by a Massive Black Hole". The Astrophysical Journal. 346: L13. Bibcode:1989ApJ...346L..13E. doi:10.1086/185567.
  192. Komossa, S. (2015). "Tidal Disruption of Stars by Supermassive Black Holes: Status of Observations". Journal of High Energy Astrophysics. 7: 148–157. arXiv:1505.01093. Bibcode:2015JHEAp...7..148K. doi:10.1016/j.jheap.2015.04.006.
  193. Ruiz, O.; Molina, U.; Viloria, P. (2019). "Thermodynamic Analysis of Kerr-Newman Black Holes". Journal of Physics: Conference Series. 1219 (1) 012016. Bibcode:2019JPhCS1219a2016R. doi:10.1088/1742-6596/1219/1/012016. From this, an expression is established for the Hawking temperature of a Kerr-Newman black hole as a function of its mass 𝑀, angular moment 𝐽 and load 𝑄. As the black hole loses mass, its temperature increases inversely proportional.
  194. Siegel, Ethan (2017). "Ask Ethan: Do Black Holes Grow Faster Than They Evaporate?". Forbes ("Starts With A Bang" blog). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 November 2018. Diakses tanggal 17 March 2018.
  195. Sivaram, C. (2001). "Black Hole Hawking Radiation May Never Be Observed!". General Relativity and Gravitation. 33 (2): 175–181. Bibcode:2001GReGr..33..175S. doi:10.1023/A:1002753400430.
  196. "Evaporating Black Holes?". Einstein online. Max Planck Institute for Gravitational Physics. 2010. Diarsipkan dari asli tanggal 22 July 2011. Diakses tanggal 12 December 2010.
  197. Auffinger, Jérémy (July 2023). "Primordial black hole constraints with Hawking radiation—A review". Progress in Particle and Nuclear Physics. 131 104040. arXiv:2206.02672. Bibcode:2023PrPNP.13104040A. doi:10.1016/j.ppnp.2023.104040.
  198. 1 2 3 Wald, Robert M. (2001). "The Thermodynamics of Black Holes". Living Reviews in Relativity. 4 (1) 6. arXiv:gr-qc/9912119. Bibcode:2001LRR.....4....6W. doi:10.12942/lrr-2001-6. PMC 5253844. PMID 28163633.
  199. 1 2 Carlip, S. (2014). "Black Hole Thermodynamics". International Journal of Modern Physics D. 23 (11): 1430023–1430736. arXiv:1410.1486. Bibcode:2014IJMPD..2330023C. doi:10.1142/S0218271814300237.
  200. Witten, Edward (2025). "Introduction to Black Hole Thermodynamics". The European Physical Journal Plus. 140 (5) 430. arXiv:2412.16795. Bibcode:2025EPJP..140..430W. doi:10.1140/epjp/s13360-025-06288-y.
  201. Elbert, Oliver D.; Bullock, James S.; Kaplinghat, Manoj (2018). "Counting black holes: The cosmic stellar remnant population and implications for LIGO". Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. 473: 1186–1194. doi:10.1093/mnras/stx1959.
  202. Abramowicz, M. A.; Kluźniak, W.; Lasota, J.-P. (2002). "No observational proof of the black-hole event-horizon". Astronomy & Astrophysics. 396 (3): L31 – L34. arXiv:astro-ph/0207270. Bibcode:2002A&A...396L..31A. doi:10.1051/0004-6361:20021645.
  203. Event Horizon Telescope Collaboration; et al. (May 2022). "First Sagittarius A* Event Horizon Telescope Results. VI. Testing the Black Hole Metric". The Astrophysical Journal Letters. 930 (2): L17. Bibcode:2022ApJ...930L..17E. doi:10.3847/2041-8213/ac6756.
  204. Akiyama, Kazunori; Alberdi, Antxon; et al. (2019). "First M87 Event Horizon Telescope Results. II. Array and Instrumentation". The Astrophysical Journal Letters. 875 (1): L2. arXiv:1906.11239. Bibcode:2019ApJ...875L...2E. doi:10.3847/2041-8213/ab0c96.
  205. "FAQ". LIGO Lab. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2026-01-13. Diakses tanggal 2026-02-05.
  206. Gillessen, S.; Eisenhauer, F.; et al. (2009). "Monitoring Stellar Orbits Around the Massive Black Hole in the Galactic Center". The Astrophysical Journal. 692 (2): 1075–1109. arXiv:0810.4674. Bibcode:2009ApJ...692.1075G. doi:10.1088/0004-637X/692/2/1075.
  207. Broderick, Avery; Loeb, Abraham; Narayan, Ramesh (August 2009). "The Event Horizon of Sagittarius A*". The Astrophysical Journal. 701 (2): 1357–1366. arXiv:0903.1105. Bibcode:2009ApJ...701.1357B. doi:10.1088/0004-637X/701/2/1357.
  208. Reid, M. J.; Brunthaler, A. (2020). "The Proper Motion of Sagittarius A*. III. The Case for a Supermassive Black Hole". The Astrophysical Journal. 892 (1): 39. arXiv:2001.04386. Bibcode:2020ApJ...892...39R. doi:10.3847/1538-4357/ab76cd.
  209. Schatz, H.; Rehm, K.E. (2006). "X-Ray Binaries". Nuclear Physics A. 777: 601–622. arXiv:astro-ph/0607624. Bibcode:2006NuPhA.777..601S. doi:10.1016/j.nuclphysa.2005.05.200.
  210. Quirrenbach, Andreas; Frink, Sabine; Tomsick, John (2004-12-01). "Masses and Luminosities of X-Ray Binaries" (PDF). SIM PlanetQuest: Science with the Space Interferometry Mission. National Aeronautics and Space Administration. Bibcode:2002swsi.conf...33Q.
  211. Cho, Adrian (2018). "A Weight Limit Emerges for Neutron Stars". Science. 359 (6377): 724–725. Bibcode:2018Sci...359..724C. doi:10.1126/science.359.6377.724. PMID 29449468.
  212. Corral-Santana, J. M.; Casares, J.; et al. (2016). "BlackCAT: A catalogue of stellar-mass black holes in X-ray transients". Astronomy & Astrophysics. 587: A61. arXiv:1510.08869. Bibcode:2016A&A...587A..61C. doi:10.1051/0004-6361/201527130.
  213. Broekgaarden, Floor S.; Berger, Edo (2021). "Formation of the First Two Black Hole–Neutron Star Mergers (GW200115 and GW200105) from Isolated Binary Evolution". The Astrophysical Journal Letters. 920 (1): L13. arXiv:2108.05763. Bibcode:2021ApJ...920L..13B. doi:10.3847/2041-8213/ac2832.
  214. Chattopadhyay, Debatri; Stevenson, Simon; et al. (2022). "Modelling the Formation of the First Two Neutron Star–Black Hole Mergers, GW200105 and GW200115: Metallicity, Chirp Masses, And Merger Remnant Spins". Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. 513 (4): 5780–5789. doi:10.1093/mnras/stac1283.
  215. Ziosi, B. M.; Mapelli, M.; et al. (2014). "Dynamics of Stellar Black Holes in Young Star Clusters with Different Metallicities – II. Black Hole-Black Hole Binaries". Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. 441 (4): 3703–3717. arXiv:1404.7147. doi:10.1093/mnras/stu824.
  216. "Sources and Types of Gravitational Waves". LIGO Caltech. Diakses tanggal 26 October 2025.
  217. King, A. (2003). "Black Holes, Galaxy Formation, And the MBH-σ Relation". The Astrophysical Journal Letters. 596 (1): 27–29. arXiv:astro-ph/0308342. Bibcode:2003ApJ...596L..27K. doi:10.1086/379143.
  218. Ferrarese, L.; Merritt, D. (2000). "A Fundamental Relation Between Supermassive Black Holes and Their Host Galaxies". The Astrophysical Journal Letters. 539 (1): 9–12. arXiv:astro-ph/0006053. Bibcode:2000ApJ...539L...9F. doi:10.1086/312838.
  219. 1 2 Ferrarese, Laura; Ford, Holland (2005). "Supermassive Black Holes in Galactic Nuclei: Past, Present and Future Research". Space Science Reviews. 116 (3–4): 523–624. arXiv:astro-ph/0411247. Bibcode:2005SSRv..116..523F. doi:10.1007/s11214-005-3947-6.
  220. Chou, Felicia; Anderson, Janet; Watzke, Megan (5 January 2015). "RELEASE 15-001—NASA's Chandra Detects Record-Breaking Outburst from Milky Way's Black Hole". NASA. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 January 2015. Diakses tanggal 6 January 2015.
  221. Kormendy, J.; Richstone, D. (1995). "Inward Bound—The Search For Supermassive Black Holes In Galactic Nuclei". Annual Review of Astronomy and Astrophysics. 33 (1): 581–624. Bibcode:1995ARA&A..33..581K. doi:10.1146/annurev.aa.33.090195.003053.
  222. Melia, Fulvio; Falcke, Heino (2001). "The Supermassive Black Hole at the Galactic Center". Annual Review of Astronomy and Astrophysics. 39: 309–352. arXiv:astro-ph/0106162. Bibcode:2001ARA&A..39..309M. doi:10.1146/annurev.astro.39.1.309.
  223. Wambsganss, Joachim (1998). "Gravitational Lensing in Astronomy". Living Reviews in Relativity. 1 (1) 12. arXiv:astro-ph/9812021. Bibcode:1998LRR.....1...12W. doi:10.12942/lrr-1998-12. PMC 5567250. PMID 28937183.
  224. Wambsganss, J. (2006). "Gravitational Microlensing". Gravitational Lensing: Strong, Weak and Micro. Saas-Fee Advanced Courses. Vol. 33. hlm. 453–540. arXiv:astro-ph/0604278. doi:10.1007/978-3-540-30310-7_4. ISBN 978-3-540-30309-1.
  225. Abrams, Natasha S.; Takada, Masahiro (December 1, 2020). "Hunting Gravitational Wave Black Holes with Microlensing". The Astrophysical Journal. 905 (2): 121. arXiv:2006.05578. Bibcode:2020ApJ...905..121A. doi:10.3847/1538-4357/abc6aa. ISSN 0004-637X.
  226. Kaczmarek, Zofia; McGill, Peter; Perkins, Scott E.; Dawson, William A.; Huston, Macy; Ho, Ming-Feng; Abrams, Natasha S.; Lu, Jessica R. (March 7, 2025). "On Finding Black Holes in Photometric Microlensing Surveys". The Astrophysical Journal. 981 (2): 183. arXiv:2410.14098. Bibcode:2025ApJ...981..183K. doi:10.3847/1538-4357/adb1d7. ISSN 0004-637X.
  227. Hawking, S. W. "Does God Play Dice?". Diarsipkan dari asli tanggal 11 January 2012. Diakses tanggal 14 March 2009.[rujukan terbitan sendiri?]
  228. Anderson, Warren G. (1996). "The Black Hole Information Loss Problem". Usenet Physics FAQ. Diarsipkan dari asli tanggal 22 January 2009. Diakses tanggal 24 March 2009.
  229. Preskill, J. (21 October 1994). Black Holes and Information: A Crisis in Quantum Physics (PDF). Caltech Theory Seminar. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 18 May 2008. Diakses tanggal 17 May 2009.
  230. Raju, Suvrat (2022). "Lessons from the information paradox". Physics Reports. 943: 1–80. arXiv:2012.05770. Bibcode:2022PhR...943....1R. doi:10.1016/j.physrep.2021.10.001.
  231. Volonteri, Marta; Habouzit, Mélanie; Colpi, Monica (September 20, 2021). "The origins of massive black holes". Nature Reviews Physics (dalam bahasa Inggris). 3 (11): 732–743. arXiv:2110.10175. Bibcode:2021NatRP...3..732V. doi:10.1038/s42254-021-00364-9. ISSN 2522-5820.
  232. Trenti, M.; Stiavelli, M. (2007). "Distribution of the Very First Population III Stars and Their Relation to Bright z ≈ 6 Quasars". The Astrophysical Journal. 667 (1): 38–48. arXiv:0705.3843. Bibcode:2007ApJ...667...38T. doi:10.1086/520502.
  233. Singh, Jasbir; Monaco, Pierluigi; Tan, Jonathan C. (2023). "The Formation of Supermassive Black Holes from Population III.1 Seeds. II. Evolution to the Local Universe". Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. 525: 969–982. doi:10.1093/mnras/stad2346.
  234. 1 2 Smith, Aaron; Bromm, Volker (2019). "Supermassive Black Holes in the Early Universe". Contemporary Physics. 60 (2): 111–126. arXiv:1904.12890. Bibcode:2019ConPh..60..111S. doi:10.1080/00107514.2019.1615715.
  235. Jeon, Myoungwon; Pawlik, Andreas H.; et al. (2014). "Radiative Feedback from High-Mass X-Ray Binaries on the Formation of the First Galaxies and Early Reionization". Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. 440 (4): 3778–3796. doi:10.1093/mnras/stu444.
  236. Miralda-Escudé, Jaiyul Yoo Jordi; Miralda-Escudé, Jordi (2004). "Formation of the Black Holes in the Highest Redshift Quasars". The Astrophysical Journal. 614 (1): L25 – L28. arXiv:astro-ph/0406217. Bibcode:2004ApJ...614L..25Y. doi:10.1086/425416.
  237. Trakhtenbrot, Benny (2019). "What Do Observations Tell Us About the Highest-Redshift Supermassive Black Holes?". Proceedings of the International Astronomical Union. 15: 261–275. arXiv:2002.00972. doi:10.1017/S1743921320003087.
  238. Mayer, Lucio; Bonoli, Silvia (2019). "The Route to Massive Black Hole Formation via Merger-Driven Direct Collapse: A Review". Reports on Progress in Physics. 82 (1): 016901. arXiv:1803.06391. Bibcode:2019RPPh...82a6901M. doi:10.1088/1361-6633/aad6a5. PMID 30057369.
  239. Agarwal, Bhaskar; Dalla Vecchia, Claudio; et al. (2014). "The First Billion Years Project: Birthplaces of Direct Collapse Black Holes". Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. 443: 648–657. doi:10.1093/mnras/stu1112.
  240. Shinohara, Takumi; He, Wanqiu; et al. (2023). "Supermassive Primordial Black Holes: A View from Clustering of Quasars at ". Physical Review D. 108 (6) 063510. doi:10.1103/PhysRevD.108.063510.
  241. Mayer, Lucio (2019). "Super-Eddington accretion; flow regimes and conditions in high-z galaxies". Formation of the First Black Holes. hlm. 195–222. arXiv:1807.06243. doi:10.1142/9789813227958_0011. ISBN 978-981-322-794-1.
  242. Maoz, Eyal (1998). "Dynamical Constraints on Alternatives to Supermassive Black Holes in Galactic Nuclei". The Astrophysical Journal. 494 (2): L181 – L184. arXiv:astro-ph/9710309. Bibcode:1998ApJ...494L.181M. doi:10.1086/311194.
  243. Miller, M. Coleman (2006). "Constraints on Alternatives to Supermassive Black Holes". Monthly Notices of the Royal Astronomical Society: Letters. 367 (1): L32 – L36. arXiv:astro-ph/0512194. Bibcode:2006MNRAS.367L..32M. doi:10.1111/j.1745-3933.2006.00135.x.
  244. Kovacs, Z.; Cheng, K. S.; Harko, T. (2009). "Can Stellar Mass Black Holes Be Quark Stars?". Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. 400 (3): 1632–1642. arXiv:0908.2672. Bibcode:2009MNRAS.400.1632K. doi:10.1111/j.1365-2966.2009.15571.x.
  245. Sotani, Hajime; Kohri, Kazunori; Harada, Tomohiro (2004). "Restricting Quark Matter Models by Gravitational Wave Observation". Physical Review D. 69 (8) 084008. arXiv:gr-qc/0310079. Bibcode:2004PhRvD..69h4008S. doi:10.1103/PhysRevD.69.084008.
  246. Bonkowsky, Charles (2025-01-05). "Between Neutron Stars and Black Holes". Columbia Science Review. Diakses tanggal 2025-12-06.
  247. Dai, De-Chang; Lue, Arthur; et al. (2010). "Electroweak Stars: How Nature May Capitalize on the Standard Model's Ultimate Fuel". Journal of Cosmology and Astroparticle Physics (12): 004. arXiv:0912.0520. Bibcode:2010JCAP...12..004D. doi:10.1088/1475-7516/2010/12/004.
  248. Hansson, J.; Sandin, F. (2005). "Preon Stars: A New Class of Cosmic Compact Objects". Physics Letters B. 616 (1–2): 1–7. arXiv:astro-ph/0410417. Bibcode:2005PhLB..616....1H. doi:10.1016/j.physletb.2005.04.034.
  249. Murk, Sebastian (2023). "Nomen Non Est Omen: Why It Is Too Soon to Identify Ultra-Compact Objects as Black Holes". International Journal of Modern Physics D. 32 (14) 2342012: 2342012–2342235. arXiv:2210.03750. Bibcode:2023IJMPD..3242012M. doi:10.1142/S0218271823420129.
  250. Bagheri Tudeshki, A.; Bordbar, G.H.; Eslam Panah, B. (2022). "Dark Energy Star in Gravity's Rainbow". Physics Letters B. 835 137523. arXiv:2208.07063. Bibcode:2022PhLB..83537523B. doi:10.1016/j.physletb.2022.137523.
  251. Ball, Philip (31 March 2005). "Black Holes 'Do Not Exist'". Nature. doi:10.1038/news050328-8.
  252. Barceló, Carlos; Liberati, Stefano; et al. (2008). "Fate of Gravitational Collapse in Semiclassical Gravity". Physical Review D. 77 (4) 044032. arXiv:0712.1130. Bibcode:2008PhRvD..77d4032B. doi:10.1103/PhysRevD.77.044032.
  253. Jampolski, Daniel; Rezzolla, Luciano (2024). "Nested Solutions of Gravitational Condensate Stars". Classical and Quantum Gravity. 41 (6). arXiv:2310.13946. Bibcode:2024CQGra..41f5014J. doi:10.1088/1361-6382/ad2317.
  254. Ouellette, Jennifer (December 26, 2025). "Embark on a visual voyage of art inspired by black holes". Ars Technica (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-04-06.
  255. Gamwell, Lynn; Tyson, Neil deGrasse (2025). Conjuring the void: the art of black holes. Cambridge: The MIT Press. ISBN 978-0-262-04996-2.
  256. Tayag, Yasmin (2019-04-20). "How 'High Life' Created a Black Hole That Looks Just Like the Historic Photo". Inverse. Diakses tanggal 2026-03-31.
  257. Johnson, David Kyle (2019-06-19). "Understanding Black Holes Through Science Fiction". Sci Phi Journal. Diakses tanggal 2025-12-20.
  258. Fraknoi, Andrew (January 2024). "Science Fiction Stories with Good Astronomy & Physics: A Topical Index" (PDF). Astronomical Society of the Pacific (Edisi 7.3). hlm. 3–4. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2024-02-10. Diakses tanggal 2024-06-21.
  259. Westfahl, Gary (2021). "Black Holes". Science Fiction Literature Through History: An Encyclopedia (dalam bahasa Inggris). ABC-CLIO. hlm. 159–162. ISBN 978-1-4408-6617-3.
  260. Stableford, Brian (2006). "Black Hole". Science Fact and Science Fiction: An Encyclopedia (dalam bahasa Inggris). Taylor & Francis. hlm. 65–67. ISBN 978-0-415-97460-8.

Pranala luar

sunting